HALOBANTEN, – Indonesia kembali mencatatkan kinerja positif dalam neraca perdagangan pada Februari 2025, dengan surplus mencapai USD3,12 miliar. Capaian ini memperpanjang tren surplus yang telah berlangsung selama 58 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menyampaikan bahwa dalam periode kumulatif Januari hingga Februari 2025, Indonesia berhasil mencatatkan surplus neraca perdagangan sebesar USD6,61 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar USD3,78 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Ekspor terus menunjukkan pertumbuhan yang konsisten, dengan peningkatan sebesar 9,16% secara tahunan (yoy) pada bulan Februari. Sektor pertanian dan manufaktur menjadi pendorong utama pertumbuhan ini,” ungkap Menteri Keuangan.
Di sisi impor, pemerintah memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan tetap fokus pada dukungan terhadap kegiatan industri nasional. Pertumbuhan impor barang modal dan bahan baku mengindikasikan bahwa aktivitas produksi dan investasi di dalam negeri tetap terjaga dengan baik.
Selain itu, Menteri Keuangan juga menyoroti indikator positif lainnya, yaitu Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia. Pada Februari 2025, PMI Manufaktur Indonesia berhasil kembali ke zona ekspansif dan mencapai level 53,6, yang merupakan salah satu yang tertinggi di dunia setelah India. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan permintaan baru, yang berdampak positif pada aktivitas produksi dalam negeri.
“Berbagai indikator positif ini menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia memiliki fondasi yang kuat dan stabil. Ini adalah modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegas Menteri Keuangan.
Tren surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan ini mencerminkan peningkatan daya saing ekonomi Indonesia, yang didukung oleh kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi serta mendorong investasi dan ekspor nasional. (*/kemenkeu)















