Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga kesehatan masyarakat, baik dalam situasi darurat bencana maupun penanganan penyakit menular.
Dinkes Tangsel secara aktif menurunkan Tim Ngider Sehat untuk memberikan cek kesehatan gratis kepada warga, sekaligus mengoptimalkan program eliminasi TBC di wilayah tersebut.
Menanggapi dampak cuaca buruk dan banjir yang melanda Tangsel, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie menyampaikan keprihatinannya. Dia memastikan bahwa jajaran pemerintah bekerja maksimal, termasuk mengerahkan sumber daya untuk penanganan banjir dan berbagai masalah yang bisa saja muncul pasca banjir seperti masalah kesehatan, kebersihan, infrastruktur dan lain sebagainya.
Kepala Dinkes Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar, menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan di tengah situasi pascabanjir. “Banjir bukan hanya soal genangan air, tapi juga potensi munculnya penyakit,” ujar dr. Allin.
Untuk itu, Dinkes Tangsel menurunkan Tim Ngider Sehat ke berbagai lokasi terdampak. Tim ini bertugas memastikan kondisi kesehatan masyarakat tetap terpantau dan memberikan cek kesehatan gratis langsung di lapangan. Warga dapat mengakses layanan tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan.
Tim Ngider Sehat yang berasal dari beberapa puskesmas, seperti Puskesmas Jombang, Kedaung, Bambu Apus, dan Pondok Kacang Timur, menyediakan layanan dasar, termasuk pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kondisi umum, dan pemberian obat-obatan ringan.
Langkah proaktif ini juga merupakan bagian dari strategi mitigasi untuk mencegah penyakit seperti ISPA, diare, infeksi kulit, dan leptospirosis. Selain deteksi dini, tim Ngider Sehat juga memberikan edukasi penting kepada warga tentang kebersihan diri dan lingkungan. Kegiatan ini akan terus berlanjut di titik-titik rawan lainnya.
Optimisme Eliminasi TBC di Tangsel
Selain respons terhadap banjir, Dinkes Tangsel juga menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemberantasan tuberkulosis (TBC). Pemerintah kota optimis mencapai target eliminasi TBC pada tahun 2030, sejalan dengan target nasional dan global.
Berdasarkan data Dinkes Tangsel, cakupan pengobatan TBC mengalami peningkatan tajam, bahkan melebihi 100 persen dalam beberapa tahun terakhir. Allin Hendalin menyatakan bahwa peningkatan ini adalah bagian dari langkah besar menuju eliminasi TBC.
“Semakin banyak kasus ditemukan, itu artinya surveilans kita bekerja. Tugas kita adalah memastikan semua pasien mendapatkan pengobatan sampai tuntas,” jelasnya.
Pencapaian ini tidak lepas dari berbagai program skrining aktif yang dilakukan Dinkes Tangsel, termasuk Tim Ngider Sehat dan cek kesehatan gratis di berbagai komunitas dan fasilitas layanan kesehatan. Strategi lain yang diterapkan meliputi investigasi kontak erat dan pemberian terapi pencegahan.
Pemerintah juga terus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengobatan TBC yang tuntas, yang memerlukan waktu minimal enam bulan tanpa putus.
Pembentukan RW Bebas TBC
Sebagai upaya berkelanjutan, Dinkes Tangsel sedang gencar membentuk RW Bebas TBC, sebuah inisiatif berbasis kewilayahan yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Allin menargetkan 10 persen RW di Tangsel akan mendeklarasikan diri sebagai RW Bebas TBC pada tahun 2025, dengan target 100 persen pada tahun 2030.
RW Bebas TBC ini bertanggung jawab sebagai garda depan dalam deteksi dini dan mengawal pengobatan TBC di lingkungannya.
Saat ini, sudah ada 12 RW Bebas TBC yang terbentuk di beberapa kecamatan. Allin berharap masyarakat berkomitmen untuk bersama-sama mengeliminasi kasus TBC dan menghapuskan stigma terhadap penderita. (ADV)















