Dalam catatan sejarah ketika imperialisme atau kolonialisme masuk ke Nusantara, maka yang pertama kali dilakukan oleh penjajah itu adalah memecah warga negara.
Orang islam yang taat beragama dan melawan kolonialisme disebut dengan Islam kanan, radikal, ekstrimis atau pemberontak terhadap negara.
Jangan-jangan aroma kononial itu saat ini sedang berlaku di Indonesia dimana isu politik identitas digunakan untuk menghantam lawan-lawan politik guna menjatuhkannya.
Kampanye anti politik identitas digunakan oleh kelompok pro-status quo untuk modus stereotyping, stigmatisasi serta labelisasi pada kelompok kritis di luar pemerintahan yang tidak sejalan dengan kebijakan penguasa.
Tujuannya, menutup keran aspirasi kelompok kritis untuk membungkam suara korektif kepada penguasa.
Politik identitas telah berupaya untuk di belokkan sedemikian rupa oleh gerombolan pro-status quo, semata mata guna mempertahankan kekuasaannya.
Atau setidak-tidaknya dimaksudkan untuk mendukung calon pemimpin yang mereka usung agar menang dalam pemilu nantinya dengan cara menyudutkan calon lain yang menjadi saingannya.
Selain itu untuk menyudut umat Islam Indonesia yang mayorita jumlahnya.
Apakah memang demikian kenyataannya? Bagaimana menurut penilaian Anda?
*Semua isi materi baik berupa teks maupun foto yang dikirim adalah tanggung jawab pengirim sepenuhnya. HaloBanten.com tidak bertanggung jawab atas isi dari materi.















