News » BISNIS » BISNIS » Halaman 4

Menkes Apresiasi KEK ETKI Banten sebagai Pusat Pertumbuhan Baru

Tangerang, HALOBANTEN.COM – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) kembali memperlihatkan perannya sebagai instrumen vital penggerak perekonomian nasional. Terbukti dengan realisasi investasi kumulatif mencapai Rp286,8 triliun hingga akhir Juni 2025. Salah satu kawasan yang mengambil peran strategis dalam mendorong capaian ini adalah Kawasan Ekonomi Khusus Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (KEK ETKI) Banten, atau D-HUB SEZ, yang baru-baru ini menjadi tuan rumah diskusi tingkat tinggi untuk memajukan KEK di Indonesia.

KEK ETKI Banten menggelar forum penting, Roundtable Decision bertema “Kawasan Ekonomi Khusus Akseleratif, Atraktif: Tingkatkan Investasi dan Lapangan Kerja,” di Experience Center, Biomedical Campus, BSD City. Acara ini terselenggara melalui kolaborasi bersama SUAR.

Menkes Soroti Peluang Besar Industri Medis

Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, hadir memberikan keynote speech dan menggarisbawahi potensi besar sektor kesehatan domestik. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa belanja industri kesehatan di Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan, mencapai 9 hingga 10 persen setiap tahun selama satu dekade terakhir. Namun, pertumbuhan ini belum sepenuhnya tercermin dalam Produk Domestik Bruto (PDB) sektor kesehatan, sebab banyak aktivitas produksi produk kesehatan masih bergantung pada impor.

BACA JUGA

“Konsekuensinya, aktivitas ekonomi yang menciptakan nilai, menciptakan PDB, dan menciptakan lapangan kerja terjadi di luar negeri. Karena itu, saya sangat mendukung adanya inisiatif-inisiatif di Kawasan Ekonomi Khusus, baik untuk manufaktur alat kesehatan, farmasi, rumah sakit, laboratorium, maupun industri kesehatan lain, untuk membangun fasilitas manufaktur di Indonesia, agar kontribusinya menjadi pertumbuhan ekonomi di dalam negeri dan menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Menkes.

Ia memperkirakan industri kesehatan akan mengalami perkembangan pesat. Faktor utamanya meliputi populasi Indonesia yang makin menua, peningkatan spending kesehatan, dan potensi naiknya belanja kesehatan dari Rp640 triliun menjadi Rp1.400 triliun. “Peluang ini besar sekali, sehingga saya ingin teman-teman terus mendorong konsep pembangunan industri di dalam negeri, khususnya industri kesehatan,” tegasnya.

KEK Sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru

Selain Menteri Kesehatan, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Susiwijono Moegiarso, turut hadir dan mengapresiasi forum diskusi tersebut. Beliau menekankan bahwa KEK memegang peranan kunci dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Pengembangan KEK dan Kawasan Industri diharapkan berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui transformasi ekonomi, meliputi hilirisasi, pertumbuhan industri jasa, ekonomi hijau dan biru, integrasi ekonomi domestik ke rantai pasok global, serta pengembangan teknologi, inovasi, dan digitalisasi.

Mulyawan Gani, Strategy Advisor KEK ETKI Banten/DHUB SEZ, menyampaikan rasa terima kasih kepada Pemerintah dan Dewan Nasional KEK atas dukungan nyata. Daya tarik investasi jangka panjang KEK memberikan insentif fiskal seperti tax holiday/tax allowance dan perizinan yang lebih sederhana.

KEK ETKI Banten yang ditetapkan Pemerintah pada 7 Oktober 2024, menawarkan berbagai kemudahan untuk investasi di bidang pendidikan, kesehatan, teknologi, dan ekonomi kreatif. Lindawaty Chandra, Kepala Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK ETKI Banten/DHUB SEZ, menambahkan, penyelenggaraan forum nasional tersebut menegaskan posisi D-HUB SEZ sebagai KEK prospektif, berkomitmen menarik investasi berkualitas tinggi untuk penciptaan lapangan kerja baru melalui kolaborasi erat.

Rekomendasi Forum

Para peserta diskusi, yang mencakup pelaku KEK, pebisnis, akademisi, dan perwakilan asosiasi, menyepakati bahwa KEK telah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi, penguatan ekspor, substitusi impor, dan penciptaan lapangan kerja. Meskipun kontribusi KEK signifikan, Indonesia dengan 24 KEK memiliki jumlah dan luas kawasan yang jauh lebih kecil dibandingkan negara pesaing regional.

Diskusi juga menyoroti tantangan penting berupa kepastian hukum. Investor menghadapi keraguan akibat ketidakpastian regulasi dan kebijakan yang berpotensi berubah, padahal investasi bersifat jangka panjang. Pentingnya sinkronisasi regulasi lintas kementerian turut mengemuka, terutama mengingat meluasnya sektor KEK yang mencakup manufaktur, pariwisata, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi kreatif. Peserta forum mencontohkan langkah positif yang telah Menteri Kesehatan ambil melalui penerbitan Peraturan Menteri terkait KEK sesuai sektor industrinya, guna memastikan harmonisasi kebijakan.

Para panelis dan peserta bersepakat bahwa penguatan peran Administratur KEK menjadi kebutuhan mendesak, sebab Dewan Nasional KEK dan Administratur KEK memiliki peran sentral menjembatani kepentingan antarkementerian, pemerintah daerah, serta Badan Usaha Pengembang dan Pengelola.

Ia berharap hasil forum ini menjadi rujukan strategis untuk seluruh KEK di Indonesia. Pembahasan rekomendasi mulai dari peningkatan kualitas tata kelola, penguatan ekosistem inovasi, hingga kolaborasi lebih erat antara pemerintah, industri, dan akademisi, menjadi masukan penting untuk memastikan KEK mampu beradaptasi dengan dinamika ekonomi global serta memberikan dampak nyata bagi pembangunan nasional.

(Jek/Red)

BERITA LAINNYA