JAKARTA, HALOBANTEN.COM – Kabar mengejutkan datang dari industri baja nirkarat Tanah Air! Tsingshan Holding Group, raksasa baja asal China, santer dikabarkan menghentikan sementara operasional produksinya di Indonesia. Keputusan drastis ini sontak memicu pertanyaan besar di tengah lesunya pasar nikel global.
Menurut Ketua Badan Kejuruan Pertambangan Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Rizal Kasli, penutupan sementara ini murni karena alasan ekonomi.
“Ini karena masalah ekonomi. Harga nikel jatuh. Dia (Tsingshan) rugi, mungkin dia stop,” jelas Rizal saat ditemui di acara ESG Forum 2025 di Jakarta pada Senin (2/6).
Penurunan drastis harga nikel global disebut-sebut sebagai biang keladinya. Harga nikel pada awal 2025 bahkan menyentuh titik terendah sejak 2020, yakni USD 15.078 per metrik ton, berdasarkan data S&P Global. Akibatnya, harga jual baja nirkarat pun ikut anjlok, membuat Tsingshan harus mengambil langkah berat ini demi menghindari kerugian lebih besar.
Tak hanya itu, Rizal Kasli juga mewanti-wanti potensi dampak lanjutan dari penghentian produksi smelter ini, yaitu ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Informasi dari Bloomberg (30/5) menguatkan kabar ini, menyebutkan bahwa Tsingshan telah menghentikan beberapa lini produksi baja di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, sejak Mei 2025. Langkah ini diambil demi menjaga harga baja nirkarat yang pada April 2025 telah mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir.
Kira-kira, sampai kapan Tsingshan akan menghentikan produksinya di Indonesia? Dan bagaimana dampak lanjutan dari keputusan ini terhadap industri nikel dan ketenagakerjaan di Indonesia? Tetap ikuti perkembangannya! (*/bbs)















