Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel), Banten, menunjukkan keseriusan dalam menjaga ekosistem perkotaan melalui Konsultasi Publik penyusunan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (RIP Kehati). Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, memimpin agenda strategis ini, bertemu dengan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan fondasi pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan penting ini menarik kehadiran para tokoh kunci, termasuk Deputi Bidang Pengendalian dan Perusahaan Lingkungan, Bambang Murianto; perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung–Cisadane, Aslipa dan Adia; serta M. Penang Sudrajad, mewakili Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten. Selain itu, unsur korporasi besar seperti Sinar Mas dan JR Real Property, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat, serta tim penyusun kajian dari PT Markas Sarakan Sinar Gita turut berpartisipasi aktif.
Pilar Saga Ichsan menegaskan agenda RIP Kehati ini memiliki nilai strategis tinggi, terutama karena berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan Kota Tangsel yang padat. Ia secara khusus menyoroti masalah persampahan yang statusnya sampai saat ini menjadi pekerjaan besar. Pemerintah kota harus menangani isu ini setiap hari melalui koordinasi intensif antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Gerakan Angkat Sampah Untuk Kebersihan (GAPU), dan berbagai mitra lainnya.
Pilar menekankan bahwa penyelesaian masalah sampah tidak dapat menjadikan DLH sebagai satu-satunya penanggung jawab. Sinergi lintas dinas, termasuk peran Bina Marga, harus tercipta agar masalah sampah tidak meluas menjadi isu sosial dan lingkungan yang lebih parah. Selain itu, Pilar memaparkan upaya yang sudah DLH jalankan, seperti program DPA Cipoca dan penguatan sistem pengelolaan sampah yang berfokus pada peran masyarakat.
Aset Ekologis Strategis
Mengikuti arahan dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait RIP Kehati, Pilar mengingatkan seluruh pihak bahwa lingkungan hidup merupakan aset strategis pembangunan daerah. Ia menyebutkan kekayaan alam Tangsel berupa situ dan danau yang tersebar dari Setu, Pamulang, Ciputat, Ciater, hingga Pondok Aren.
Situ-situ tersebut, ujar Pilar, bukan sekadar elemen visual kota, melainkan memegang fungsi ekologis vital sebagai pengatur tata air dan penopang kelestarian habitat lokal. Penyusunan rencana induk menjadi langkah krusial untuk memastikan pembangunan tetap berjalan pada jalur berkelanjutan.
Ia juga menyoroti angka Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tangsel yang masih rendah, berada di bawah 10 persen, angka yang sangat jauh dari target ideal 30 persen. Pilar mendorong adanya inovasi dan memperketat aturan dalam proses perizinan untuk menjamin penyediaan RTH berjalan sesuai ketentuan. Ia menjelaskan, hilangnya lahan hijau akan membuat limpasan air meningkat dan pada akhirnya memperparah risiko banjir bagi warga.
Inovasi Teknologi dan Kolaborasi Atasi Banjir
Pilar Saga Ichsan berpendapat bahwa mengatasi banjir tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik seperti drainase, long storage, atau kolam retensi. Tanpa adanya resapan alami yang memadai, upaya-upaya tersebut tidak menghasilkan solusi yang maksimal.
Oleh karena itu, ia menekankan perlunya memperkuat kolaborasi, termasuk dengan Dinas Bina Marga, untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas dan kuantitas air tanah seiring tingginya intensitas hujan.
Wakil Wali Kota itu turut memaparkan implementasi teknologi Catchment AI yang mulai pemerintah gunakan untuk memantau area tangkapan air. Inovasi ini akan ditingkatkan melalui pengembangan portal sejuta data lingkungan, yang berfungsi sebagai pusat analisis kebencanaan berbasis data. Pilar menutup penjelasannya dengan sebuah

















