TANGSEL, HALOBANTEN.COM –Tangerang Selatan (Tangsel), kota yang katanya metropolitan dan peraih Adipura 2022, kini tercoreng skandal korupsi pengelolaan sampah yang bikin geleng-geleng kepala. Gimana enggak? Masalah sampah yang dari dulu enggak kelar-kelar, eh, malah diperparah sama oknum-oknum yang doyan duit haram!
Sampah Numpuk, Duit Ngalir ke Kantong Pribadi
Sejak berdiri tahun 2008, Tangsel itu kayaknya jodoh banget sama masalah sampah. Enggak pernah bener-bener beres. Padahal, kotanya udah maju, Piala Adipura juga udah di tangan. Tapi kok ya urusan sampah yang vital ini malah jadi lahan korupsi?
Kejaksaan Tinggi Banten baru-baru ini mencium bau busuk korupsi berjamaah di Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Tangsel. Nilainya? Jangan kaget, Rp75,9 miliar! Gila, duit sebanyak itu harusnya bisa buat bikin Tangsel bebas sampah, malah dipake buat foya-foya para koruptor.
Modus Operandi: Dari Staf Sampai Kepala Dinas Kompak Ngembat
Kasus ini udah menjerat beberapa oknum, mulai dari staf sampai kepala dinas. Salah satu yang paling gress ditahan adalah ZY, mantan staf DLHK Tangsel. Doi ditahan Kamis (17/4/2025) karena terlibat korupsi proyek pengangkutan dan pengelolaan sampah tahun anggaran 2024.
ZY ini punya peran krusial, karena dia yang nentuin lokasi pembuangan sampah. Posisinya ini dimanfaatkan buat kolusi sama WL, Kepala DLHK Tangsel saat itu (yang juga udah jadi tersangka!). Enggak cuma berdua, mereka juga gandengan tangan sama SYM, Direktur PT EPP. Dan yang paling bikin kesel, PT EPP ini ternyata perusahaan abal-abal yang enggak punya kapasitas buat ngurus sampah!
Akal-akalan Manipulasi Data dan Persekongkolan Terselubung
Modus yang dipake juga canggih, alias busuk banget! Salah satunya, mereka manipulasi administrasi, khususnya Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) milik PT EPP. Tujuannya biar perusahaan ini kelihatan kompeten, padahal cuma buat ngakalin doang.
Parahnya, investigasi kejaksaan nunjukkin kalo persekongkolan ini udah terjadi bahkan sebelum proses pemilihan penyedia jasa dimulai. Jadi, udah ada kesepakatan gelap antara pemberi kerja sama penyedia jasa yang ujung-ujungnya ngasih kontrak ke PT EPP. Padahal, PT EPP ini enggak jalanin salah satu item penting dalam kontrak, yaitu pekerjaan pengelolaan sampah. Fasilitas dan kompetensinya juga NOL besar!
Kerugian Negara Fantastis, Kasus Berlanjut ke Pengadilan!
Terbaru, Kejaksaan Tinggi Banten udah nyerahin berkas perkara tahap pertama ke Jaksa Penuntut Umum. Empat tersangka, yaitu SYM, WL, TAK, dan ZY, resmi diserahkan beserta barang buktinya.
Dan yang paling bikin miris, kerugian negara akibat ulah mereka ini mencapai Rp21.682.959.360,00! Ini angka yang fantastis dan bikin kita mikir, kapan ya masalah sampah di Tangsel ini bener-bener beres tanpa ada oknum yang ngeruk keuntungan pribadi?
Gimana menurutmu, apa kasus ini bakal jadi titik balik buat perbaikan tata kelola sampah di Tangsel, atau cuma jadi cerita busuk yang terlupakan? Yuk, diskusi di kolom komentar! (*/bbs)















