Kalau sebenarnya politik identitas itu suatu hal yang halal dan tidak dilarang oleh ketentuan yang ada tetapi mengapa tiba tiba sekarang jadi seolah olah jadi barang haram sehingga patut dihindari oleh mereka yang ingin menarik simpati massa?
Mengapa sekarang politik identitas itu tiba-tiba menjadi sesuatu yang salah, seakan saat ini politik identitas itu bertentangan dengan dasar negara sehingga banyak pihak yang harus angkat suara?
Inkonsistensi
Akhir akhir ini soal kampanye anti politik identitas memang seolah olah menjadi bahan kampanye ramai dimunculkan untuk mendegradasi pihak pihak tertentu yang dinilai sebagai pengamalnya.
Khususnya pasca pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta yang berhasil mengantarkan Anis-Sandi sebagai pemenangnya.
Dimana partai partai pengusung beserta elemen pendukungnya sering diserang oleh para buzzer sebagai pihak yang mengusung kampanye identitas sehingga harus diwaspadai keberadaannya.
Para buzzer itu begitu rajin menyerang elemen elemen pendukung Pilkada Jakarta 2017 dengan sebutan “kadrun” yang identik ke arab araban, penjual ayat dan penjual agama untuk menangguk suara.
Mereka bahkan menyerang pribadi seorang Anies Baswedan sebagai keturunan Yaman yang numpang tinggal di Indonesia.
Narasi narasi yang bernada kebencian tersebut bisa jadi merupakan wujud sakit hati setelah kandidat yang mereka usung selama Pilkada DKI 2017 berhasil dikalahkan oleh politik identitas yang memang lebih murah harganya.
Khususnya jika dibandingkan dengan rivalnya yang didukung banyak sumberdaya termasuk uang, sembako dan sapi dalam kampanyenya.
Rupanya kekalahan tersebut begitu membekas sehingga menimbulkan luka yang sulit sekali proses penyembuhannya sehingga menimbulkan dendam yang terus terpelihara.
Sampai saat ini dendam itu rupanya masih tetap ada. Sehingga tokoh tokoh yang berbicara soal agama atau mengenakan atribut agama Islam seperti jilbab, baju gamis atau sejenisnya dianggap sebagai penjual agama.
Tetapi anehnya ketika pemilu akan tiba, para tokoh yang didukung oleh para buzzer yang sering menyerang pengamal politik identitas ikut ikutan mempraktekkannya untuk menarik simpati massa.
Menjelang pemilu tiba, biasanya mereka langsung berganti penampilannya.
Bagi tokoh wanitanya, yang biasanya tidak mengenakan jilbab langsung mengamalkannya.















