Sementara yang laki laki memakai songkok atau gamis sebagai simbol perubahan perilakunya biar terkesan islami dan taat agama.
Mereka juga mulai rajin mendatangi tempat tempat ibadah seperti masjid atau mushola.
Tidak lupa datang ke pesantren, panti asuhan dan lembaga lembaga keagamaan lainnya.
Untuk mengesankan bahwa dirinya identik dan sejalan dengan aspirasi target yang didatanginya.
Bahkan ada diantaranya yang nekad jadi imam sholat pada hal tidak terpenuhi syarat dan rukunnya.
Fenomena tersebut tentu saja merupakan bagian dari pengamalan dari politik identitas yang selama ini konon akan dijauhinya.
Tapi rupanya mereka tidak tahan untuk tidak mengamalkannya.
Apakah perilaku seperti ini boleh dikatakan sebagai orang orang munafik? Seseorang yang tidak konsisten memegang teguh ucapannya?
Alhasil, di media sosial berseliweran pantun sindiran buat mereka yang begitu getol mengkampanyekan anti politik identitas tapi justru menjadi pengamalnya:
“Pergi ke hulu membeli tilam. Tiba di hulu diguyur hujan. Waktu dulu membenci islam, dekat pemilu ikut pengajian“.
“Penjual soto pendekar silat. Kaki dilipat membaca ayat. Beredar foto pejabat sholat. Agar dapat simpati rakyat“.
“Pemuda pemudi membawa tas. Isi tasnya penuh buah simalakama. Kesana kemari kampanye anti politik identitas. Tetapi nyatanya mereka yang mengamalkannya”.















