Namun demikian, pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap penurunan utilisasi menjadi 59 persen pada tahun 2019 – 2020, dikarenakan berkurangnya permintaan dan pelambatan ekonomi global. “Akan tetapi, mulai tahun 2021, utilisasi kembali naik mencapai 62 persen,” imbuh Menperin.
Sementara itu, kinerja ekspor keramik saniter nasional pada semester I tahun 2022 juga menunjukkan kenaikan sebesar 8,97 persen dibandingkan dengan semester I-2021.
“Penjualan produk-produk PT Kohler Manufacturing Indonesia sebesar 90 persen akan ditujukan untuk memenuhi pasar ekspor, antara lain ke Amerika Serikat dan negara-negara Asia Pasifik,” tutur Agus.
Kemenperin bertekad untuk terus menjaga perlindungan dan keberlangsungan iklim usaha, termasuk bagi sektor industri keramik. Tercatat selama semester I-2022, terdapat empat realisasi investasi di sektor industri keramik, yang meliputi tiga di antaranya berlokasi di Kawasan Industri Kendal, Batang, Mojokerto dengan total investasi sebesar Rp3,2 triliun, sedangkan yang keempat adalah investasi PT Kohler Manufacturing Indonesia.
Menperin mengemukakan, kebijakan-kebijakan yang mendukung pertumbuhan industri keramik saniter di Indonesia, di antaranya melalui pemberian insentif tax allowance dan fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar USD6 per MMBTU.
“PT Kohler Manufacturing Indonesia saat ini tercatat sebagai penerima HGBT dengan alokasi sebesar 0,07 BBTUD,” tandasnya.















