Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menghadirkan optimisme baru melalui tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Tema tersebut menggambarkan tekad kolektif untuk menghadirkan sistem pendidikan yang inklusif dan berkualitas bagi seluruh anak bangsa.
Namun demikian, semangat itu beriringan dengan berbagai tantangan yang masih terasa kuat dalam praktik sehari-hari. Ketimpangan akses pendidikan, khususnya di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal, masih menjadi persoalan yang belum tuntas. Banyak anak belum memperoleh kesempatan belajar yang setara, sehingga pemerataan pendidikan terus menjadi agenda besar yang menuntut perhatian serius.
Selain itu, perubahan regulasi dan kurikulum yang berlangsung secara dinamis kerap memicu kebingungan pada tahap pelaksanaan. Para guru sebagai ujung tombak pendidikan harus beradaptasi dengan cepat, sementara dukungan yang tersedia belum sepenuhnya memadai. Kondisi ini menciptakan tekanan tersendiri dalam upaya menjaga kualitas pembelajaran.
Di sisi lain, keterbatasan jumlah tenaga pendidik dan kepala sekolah turut memperberat situasi. Kesejahteraan guru, terutama di sekolah swasta dan kalangan honorer, juga masih jauh dari harapan. Padahal, mutu pendidikan sangat bergantung pada kualitas serta kondisi hidup para pendidiknya.
Sinergi Jadi Kunci Membangun Ekosistem Pendidikan
Ketua PKSS, Eko Pranoto, menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor guna menjawab berbagai tantangan tersebut. Ia menilai sinergi antara sekolah negeri dan swasta, peran aktif orang tua, serta komitmen pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat.
Lebih lanjut, Eko juga menyoroti persoalan non-struktural yang tak kalah penting. Kasus perundungan dan pelecehan di lingkungan sekolah masih muncul dan menjadi alarm bagi semua pihak. Jumlah siswa yang terlalu banyak dalam satu kelas kerap menyulitkan pengawasan, sehingga potensi terjadinya tindakan merugikan peserta didik semakin besar.
Oleh karena itu, momentum Hardiknas tidak cukup sekadar menjadi perayaan tahunan. Momen ini seharusnya mendorong refleksi mendalam sekaligus melahirkan langkah nyata yang mampu menjawab persoalan pendidikan secara menyeluruh.
Akhirnya, kebutuhan akan pendidikan yang merata dan bermutu semakin mendesak. Seluruh pemangku kepentingan perlu bergerak bersama, bukan hanya dalam wacana, tetapi juga melalui aksi konkret. Hardiknas 2026 pun menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju pendidikan yang adil masih panjang, meski harapan tetap terbuka lebar melalui kolaborasi dan komitmen yang konsisten.
(JAR)















