JAKARTA, HALOBANTEN.COM – Proyek Strategis Nasional (PSN) Pipa Gas Cisem II yang digadang-gadang sebagai urat nadi energi masa depan Indonesia, kini tengah jadi sorotan tajam.
Bukan karena kemajuan pembangunannya, melainkan dugaan aroma tak sedap kolusi tender yang tercium bahkan sebelum proyek ini rampung. Padahal, dana Rp 2,7 triliun dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) digelontorkan untuk proyek yang ditargetkan selesai pada kuartal I 2026 ini.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) telah mencium kejanggalan serius dalam proses tender proyek ini. Bukan kebocoran gas, melainkan dugaan persekongkolan yang melibatkan sejumlah pihak:
* PT Timas Suplindo
* PT Pratiwi Putri Sulung
* PT PP (Persero)
* PT Nindya Karya
* Dan yang paling mengejutkan, Kelompok Kerja Pemilihan Kementerian ESDM 7.
Investigasi KPPU menguak adanya skenario persekongkolan, baik secara horizontal antar perusahaan maupun vertikal dengan panitia tender. Artinya, dugaan ini bukan sekadar permainan “arisan” tender, melainkan terstruktur seperti jaringan pipa kolusi nasional yang tersembunyi.
Fanshurullah Asa, Ketua KPPU, menyatakan keprihatinannya. Proyek yang seharusnya menjadi simbol integritas PSN ini, justru berpotensi menjadi “etalase kolusi bersubsidi negara”.
Ini baru tahap kedua, dan memunculkan pertanyaan besar tentang apa yang akan mengalir jika proyek gas ini benar-benar tersambung hingga Dumai: gas atau justru lebih banyak kejanggalan?
Lebih miris lagi, sektor energi disebut-sebut sebagai sektor dengan indeks persaingan terendah dalam lima tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa dugaan kolusi pada proyek Pipa Gas Cisem II mungkin hanyalah pucuk gunung es dari permasalahan persaingan tidak sehat di sektor energi nasional. Ini bukan satu-satunya “pipa yang bocor”, melainkan yang baru saja terkuak ke publik. (*/bbs)















