JAKARTA, HALOBANTEN.COM – Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, kembali bikin gebrakan. Bukan kaleng-kaleng, dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, Luhut mengusulkan pembentukan Joint Sovereign Wealth Fund antara Indonesia dan Tiongkok.
Fund ini digadang-gadang bakal jadi mesin pendorong proyek-proyek strategis bernilai fantastis.
Skema pendanaan ini akan dijalankan melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, atau lebih dikenal dengan nama Danantara.
Indonesia sendiri siap jadi yang pertama dengan menyuntikkan dana awal sebesar 1 miliar dolar AS (sekitar Rp16 triliun), sembari berharap Tiongkok juga ikut patungan dengan nominal yang sama. Bak arisan raksasa, tapi anggotanya negara dan isinya proyek-proyek masa depan!
Menurut Luhut, kolaborasi ini bisa membiayai segudang mimpi besar Indonesia. Mulai dari hilirisasi mineral, pengembangan pusat data, kecerdasan buatan, energi hijau, hingga infrastruktur masa depan yang bakal bikin Indonesia makin kinclong.
Tak cuma soal duit dan proyek, pertemuan ini juga membahas kerja sama di bidang ekonomi hijau. Termasuk di dalamnya adalah teknologi penangkapan karbon, seperti Carbon Capture Storage (CCS) dan Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS).
Luhut optimistis, Indonesia punya potensi besar untuk menyimpan karbon hingga 600 gigaton, sebuah langkah konkret untuk mencapai target netral emisi pada tahun 2050.
Apakah usulan ini bakal jadi game changer ekonomi atau hanya sekadar wacana investasi yang menguap? Kita tunggu saja kelanjutannya. Namun satu hal yang pasti, Luhut tetap konsisten menjadi “sales” paling aktif untuk mempromosikan potensi dan peluang investasi di Indonesia. (*/bbs)















