Jakarta, HALOBANTEN.COM – Siapa sangka, angka penjualan hewan kurban ternyata bisa jadi termometer akurat kondisi ekonomi rakyat? Jelang Iduladha 2025, para peternak yang tadinya berharap bisa meraup untung besar, kini harus menghadapi kenyataan pahit: harga hewan kurban melambung, namun daya beli masyarakat justru anjlok.
Lembaga Riset Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS) mengungkapkan fakta mengejutkan. Nilai ekonomi kurban di tahun 2025 ini hanya mencapai Rp 27,1 triliun. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan masa pandemi Covid-19, sebuah periode di mana kondisi ekonomi global sedang kacau balau, namun partisipasi masyarakat dalam berkurban masih lebih tinggi.
Penurunan bukan hanya terjadi pada nilai ekonomi, tapi juga pada jumlah pekurban. Tahun lalu, tercatat ada sekitar 2,16 juta orang yang berpartisipasi dalam ibadah kurban. Namun, tahun ini angkanya merosot tajam menjadi 1,92 juta pekurban. Artinya, dalam kurun waktu satu tahun, sekitar 233 ribu potensi pekurban “menghilang”—sebuah indikasi jelas bahwa kemampuan finansial masyarakat sedang tertekan.
Tira Mutiara dari IDEAS menegaskan bahwa kondisi ini adalah sinyal bahaya yang nyata. Daya beli masyarakat bukan lagi sekadar melemah, melainkan sudah pada tahap “tiarap”.
Berbagai faktor disinyalir menjadi pemicu, mulai dari lonjakan harga kebutuhan pokok, beban cicilan yang makin menjerat, hingga stagnasi gaji yang tak mampu mengejar laju kenaikan biaya hidup.
Bagi Anda yang tahun ini belum bisa menunaikan ibadah kurban karena kendala finansial, jangan berkecil hati. Nilai ibadah tidak semata diukur dari besarnya hewan kurban, melainkan dari keikhlasan dan tekad untuk terus berusaha bangkit. Ekonomi boleh jadi sedang lesu, namun semangat dan harapan untuk masa depan yang lebih baik jangan sampai ikut “dikurbankan”. (*/bbs)















