Serang, HALOBANTEN.COM – Jumlah penderita kanker di Banten capai 1.659 kasus baru sepanjang 2024.
Sementara, hingga April 2025 kemarin tercatat jumlah kanker mencapai 472 kasus baru.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten (Dinkes Banten) Ati Pramudji Hastuti memaparkan, mengacu pada data yang dimiliki Dinkes Banten, kasus kanker diperkirakan akan meningkat hingga 70 persen pada tahun 2050.
Hal itu bisa terjadi jika kasus kanker tidak ditangani secara tepat.
Kanker, kata Ati, menjadi penyebab kematian kedua tertinggi di Republik Indonesia, dengan sekitar 240 ribu kasus setiap tahun.
“Pada 2024 lalu tercatat ada 1.659 kasus kanker baru di Provinsi Banten, dan sampai April 2025 ada sebanyak 472 kasus baru,” jelas Ati saat peresmian Gedung Bunker Radioterapi dan Operasional Pelayanan Kemoterapi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten, di Jalan Syech Nawawi Al Bantani, Banjarsari, Cipocok Jaya, Kota Serang, Kamis (8/5/2025) lalu.
Jenis kasus kanker yang paling banyak ditemukan antara lain kanker paru-paru, kanker payudara, dan kanker kolorektal dan kanker serviks.
Bangun Gedung Bunker Radioterapi dan Kemoterapi
Menyikapi peningkatan tersebut, kata Ati, harus ada langkah konkrit untuk memperluas akses layanan onkologi.
RSUD Banten saat ini sudah punya tujuh tenaga medis sub spesialis yang fokus menangani berbagai jenis kanker.
Gedung bunker RSUD Banten yang diresmikan memiliki tiga ruangan utama.
Pertama, Ruang Simulator. Ruangan ini digunakan untuk memastikan ketepatan sasaran sebelum tindakan penyinaran dilakukan.
Ruang Simulator ini untuk memastikan radiasi tepat pada sel kanker dan meminimalkan kerusakan pada jaringan sehat.
Kedua, Ruang Linear Accelerator (LINAC).
Ruangan ini digunakan untuk penanganan kanker di luar area rahim atau ovarium, dengan teknologi yang mampu menargetkan tumor secara presisi.
Dalam bunker itu juga ada Ruang Brakiterapi (Brachytherapy) khusus untuk penanganan kanker pada wanita, seperti kanker serviks dan ovarium
Di mana radiasi dilakukan langsung pada area tumor untuk efektivitas yang lebih tinggi.
RSUD Banten bekerja sama dengan RSCM sebagai rumah sakit pengampu, untuk memastikan setiap tindakan medis dapat dilakukan dengan tepat dan efektif.
Termasuk dalam menangani kasus-kasus yang lebih kompleks.
Dengan adanya jaringan rujukan ini, pasien dapat menerima penanganan yang lebih cepat dan akurat.
“Kami berharap setelah alat radioterapi ini terpasang dan diuji coba, RSUD Banten dapat menjadi pusat layanan kanker terkemuka di wilayah Banten,” harap Ati.
Gubernur Banten Andra Soni menekankan pentingnya peningkatan akses layanan kesehatan, khususnya untuk penanganan kanker yang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia.
Dengan hadirnya fasilitas radioterapi dan kemoterapi ini, masyarakat Banten tidak perlu lagi dirujuk keluar daerah untuk mendapatkan layanan pengobatan kanker yang komprehensif.
Meskipun pembangunan bunker radioterapi telah selesai, namun peralatan radioterapi masih menunggu pengadaan dari Pemerintah Pusat melalui hibah APBN.
Walau demikian, beberapa layanan kemoterapi sudah dapat dilakukan di RSUD Banten,
(Jek/Red)















