Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM — Aparat Polres Tangerang Selatan melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) tengah menyelidiki laporan dugaan tindak pidana terhadap anak yang tercatat sejak 10 Februari 2026. Laporan tersebut teregister dengan Nomor LP/B/410/8/2026/SPKT/Polres Tangerang Selatan/Polda Metro Jaya.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Tangerang Selatan, AKP Wira Graha, membenarkan adanya laporan tersebut. Namun demikian, ia menegaskan proses pendalaman masih berlangsung.
“Kasus ini masih dalam penyelidikan Unit PPA Polres Tangerang Selatan,” ujar Wira saat konfirmasi, Kamis (19/2/2026).
Lebih lanjut, ia menjelaskan laporan tercatat atas nama seorang ayah berinisial A sebagai pelapor. Adapun pihak terlapor berinisial Ez. Laporan dugaan pencabulan masuk sejak 10 Februari 2026.
Selanjutnya, penyidik menjadwalkan pemeriksaan tambahan terhadap pelapor guna melengkapi keterangan. Rencana pemeriksaan berlangsung pada Jumat, 20 Februari 2026, di Mapolres Tangerang Selatan.
Korban dalam perkara ini berjumlah empat anak yang masih berusia di bawah umur, yakni A (11), I (5), M (3), serta satu anak lain yang merupakan tetangga korban.
Beredar Video Pengakuan Wanita Diduga Ibu Korban
Sementara, di media WhatsApp beredar sebuah video seorang wanita diduga ibu dari korban pencabulan. Dalam tayangannya, wanita tersebut membeberkan peristiwa yang memilukan itu. Dia meminta keadilan dan proses hukum terhadap pelaku.
Kasus tersebut mulai terungkap pada awal Februari 2026. Saat itu, pihak sekolah memanggil orang tua korban setelah menemukan dugaan kejanggalan yang melibatkan dua anak.
Kemudian, seorang ibu berinisial H mengungkap dugaan peristiwa yang menimpa anaknya terjadi di sebuah kontrakan kawasan Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan, Banten, Selasa (17/2/2026).
Awalnya, H mengaku tidak menaruh curiga ketika anaknya mengeluhkan rasa sakit pada bagian anus. Bahkan, ia menduga keluhan itu berkaitan dengan gangguan pencernaan biasa.
“Awalnya anak saya sempat sakit anusnya. Saya pikir sakit biasa, enggak kepikiran ke situ,” ujar H.
Ia sempat menduga anaknya mengalami sembelit dan berencana memberi buah pepaya untuk membantu pencernaan. Namun, keluhan tersebut terus berulang selama beberapa hari.
Tak lama kemudian, informasi justru muncul dari pihak sekolah. Seorang siswa yang merupakan anak tetangga H terlihat memiliki bekas kemerahan pada bagian leher. Guru sempat memanggil anak tersebut dan mempertanyakan tanda merah di lehernya.
Pada awalnya, anak tersebut mengaku hanya bercanda dengan temannya. Akan tetapi, guru menilai ada kejanggalan sehingga membawa anak tersebut bersama rekannya ke ruang kepala sekolah untuk pemeriksaan lebih lanjut.
“Di situ ditanya sama guru-guru, siapa yang nyuruh. Mereka jawab ada yang nyuruh,” ujarnya.
Selain itu, berdasarkan cerita yang H terima, anak-anak tersebut sempat diberi minuman sebelum kejadian berlangsung.
(Red)















