“Mengapa di khususkan? karena ibu dan bayi kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap kematian. Itu prioritaskan,” tegasnya.
Pembangunan kesehatan adalah membangun derajat kesehatan agar orang tidak gampang sakit.
Setiap tahun harus terjadi penurunan angka kesakitan.
Misalnya tahun ini yang sakit 10 ribu, tahun depan naik 20 ribu dan tahun depan naik lagi 30 ribu itu artinya gagal membangun kesehatan.
Seharusnya pembangunan kesehatan berhasil apabila terjadi tren penurunan 2015 yang sakit 10 ribu, 2016 turun jadi 9 ribu, 2017 turun 8 ribu, 2019 jadi 7 ribu.
“Artinya berhasil dengan pendekatan lintas sector,” jelas Pandji Tirtayasa.
Sedangkan di Kabupaten Serang trennya masih naik.
Hal itu terlihat dari puskesmas masih di tambah, anggaran obat di tambah pula. Artinya kesakitan naik di Kabupaten Serang.
”Kita belum berhasil karena masih ada pemahaman bicara pembangunan kesehatan itu tugas Dinkes itu yang keliru,” kata Pandji Tirtayasa.
“Kalau Dinkes itu bicara menangani orang sakit, penanganan kesehatan itu ada empat preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif,” kata Pandji Tirtayasa.
“Yang ada sekarang itu kuratif pelayanan kesehatan orang sakit diobati,” ucapnya.
Menurut Pandji Tirtayasa, yang paling utama harusnya preventif jangan sampai timbul kasus penyakit atau pencegahan.
Oleh karena itu saat ini sudah balance atau seimbang antara anggaran pencegahan dengan kuratif.
”Dulu kuratif aja (fokus anggarannya), sekarang ada pembangunan Rutilahu. Itu adalah bagian membangun Kesehatan,” Pandji Tirtayasa.
“Bagaimana membangun rumah layak huni dan memenuhi standar kesehatan, perbaikan sanitasi dan lingkungan, menyediakan air bersih, manajamen air kotor itu bagian membangun kesehatan. Itu bukan bagian Dinkes tapi dinas perkim, PU terlibat disitu,” ucapnya.















