JAKARTA, HALOBANTEN.COM – Pernahkah Anda membayangkan, di balik setiap butir nasi yang Anda santap, ada kisah ekonomi yang menyayat hati?
Menteri Pertanian Amran Sulaiman baru-baru ini membongkar fakta mengejutkan: para tengkulak atau perantara panen untung fantastis hingga Rp 42 triliun setiap tahunnya dari selisih harga beras! Ini adalah realita pahit di mana mereka yang berpeluh menanam, justru tak menikmati hasil sepadan, sementara pihak yang tak berkeringat justru meraup keuntungan besar.
Modus operandi para tengkulak ini cukup sederhana namun sangat merugikan petani dan konsumen. Mereka membeli beras dari petani dengan harga sangat rendah, lalu menjualnya kembali ke pasar dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Selisih harga rata-rata mencapai Rp 2.000 per kilogram. Bayangkan, jika angka ini dikalikan dengan volume beras nasional yang mencapai 21 juta ton, maka keuntungan fantastis Rp 42 triliun mengalir deras ke kantong para perantara!
Di sisi lain, para petani yang merupakan tulang punggung ketahanan pangan kita, harus berjuang mati-matian. Mereka bekerja dari pagi buta hingga larut malam, berhadapan dengan ketidakpastian cuaca dan fluktuasi harga pasar. Setelah berbulan-bulan kerja keras, rata-rata pendapatan mereka hanya berkisar Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta per bulan per keluarga.
Sebuah angka yang sangat timpang jika dibandingkan dengan kerja keras dan risiko yang mereka hadapi. Mereka adalah pahlawan pangan sejati, namun sayangnya, bukan pahlawan yang mendapatkan penghargaan finansial yang layak.
Kondisi ini memicu kemarahan Menteri Amran Sulaiman. “Jangan permainkan! Kita sudah setengah mati membantu petani!” ujarnya geram.
Namun, praktik yang merugikan ini nampaknya masih terus berlangsung, membuat para petani kita terperangkap dalam lingkaran “bertahan hidup” alih-alih “meraup keuntungan”. (*/bbs)















