Fenomena ini mencerminkan bahwa pemilih di Banten lebih memperhatikan isu praktis dan kebijakan jangka pendek daripada etika calon.
Para pengamat berpendapat bahwa seksisme dalam politik membatasi peluang perempuan untuk memimpin, memperkuat stereotip gender, dan meningkatkan risiko intimidasi.
Aktivis gender dan organisasi perempuan memanfaatkan momen ini untuk mengedukasi masyarakat tentang dampak buruk seksisme.
Namun, meski kritik terhadap pernyataan Dimyati besar, rendahnya representasi perempuan dalam politik Banten tetap menjadi tantangan yang belum terpecahkan.
Kemenangan Dimyati menunjukkan bahwa isu gender belum menjadi prioritas utama di kalangan pemilih di Banten, yang menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan seksisme dalam politik membutuhkan usaha yang lebih besar, baik dalam edukasi publik maupun peningkatan peran perempuan dalam politik.
Peristiwa ini juga mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam memperjuangkan kesetaraan gender dalam politik di Indonesia.
Peran Media dalam Mengatasi Seksisme
Tim Media Social Monitoring LPI melaporkan bahwa pernyataan seksisme masih sering muncul dalam Pilkada 2024, dengan komentar paling mencolok datang dari calon Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah.
Dalam debat Pilkada pada Oktober 2024, Dimyati mengatakan, “perempuan harus dilindungi dan dihargai dengan tidak memberi mereka beban berat seperti menjadi gubernur,” merujuk pada Airin Rachmi Diany.















