rumah rusak sedang, dan 20.500 rumah rusak ringan. Bencana juga merusak 271 jembatan dan 282 fasilitas pendidikan.
Peningkatan jumlah korban jiwa meninggal setiap hari terjadi secara signifikan. Sehari sebelumnya, Kepala BNPB Suharyanto menyampaikan perkembangan penanganan bencana di wilayah Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Ia mengadakan konferensi pers Minggu (30/11/2025) di Pos Pendukung Nasional, Bandara Silangit, Tapanuli Utara.
Berdasarkan data sementara pada Minggu, 30 November 2025, total korban meninggal dunia mencapai 442 jiwa, dengan 402 jiwa masih hilang.
Tim gabungan terdiri dari BNPB, TNI/Polri, Basarnas, kementerian/lembaga, serta pemerintah daerah terus bekerja keras mempercepat operasi pencarian, pertolongan, penyaluran logistik, dan pembukaan akses wilayah banjir terdampak.
Sumatera Utara mencatat 217 jiwa meninggal dunia setelah tim pencarian dan pertolongan (Search and Rescue-SAR) kembali menemukan korban yang hari sebelumnya masih hilang. Korban meninggal dunia tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Kota Padang Sidempuan, Deli Serdang, dan Nias.
Jumlah korban hilang juga bertambah menjadi 209 orang karena banyak warga melaporkan kehilangan keluarga kepada petugas posko daerah.
“Korban jiwa untuk Sumatra Utara 217 yang meninggal dunia, kemudian 209 yang masih hilang,” tutur Suharyanto.
Warga Sumatera mengungsi tersebar pada beberapa titik, misalnya 3.600 jiwa mengungsi di Tapanuli Utara, 1.659 jiwa di Tapanuli Tengah, 4.661 jiwa di Tapanuli Selatan, 4.456 jiwa di Kota Sibolga, 2.200 jiwa di Humbang Hasundutan, dan 1.378 jiwa di Mandailing Natal.
Akses Transportasi Darat di Beberapa Titik Masih Terputus
Akses darat di beberapa kabupaten masih terputus akibat longsor dan kerusakan jembatan. Tapanuli Utara mengalami terputusnya jalan Tarutung–Sibolga di sejumlah titik. Sejumlah desa di Parmonangan dan Adiankoting

















