Setu, HALOBANTEN.COM – Warga yang tergabung dalam Paguyuban Warga Muncul, Kecamatan Setu, mengaku penutupan Jalan Raya Puspiptek oleh Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) sangat berdampak terhadap seluruh kegiatan masyarakat.
Warga mengaku, selain berdampak terhadap ekonomi, juga terdampak kegiatan lalu lintas, dan sekolah anak-anak di Kecamatan Setu.
Bagaimana tidak, Jalan Raya Puspiptek tersebut biasa dilalui masyarakat untuk memutar roda ekonomi keluarga, kini harus memutar jauh hingga tak bisa melewati jalan.
Terlebih, apabila terjadi sistem lalu lintas satu arah atau one way yang biasa dilakukan setiap pagi di Jalan Pahlawan Seribu hingga Jalan Tekno Widya, maka warga akan memutar sangat jauh.
Koordinator Aksi Masyarakat Setu, Nurhendra menjelaskan dampak terhadap penutupan Jalan Raya Puspiptek oleh Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) tertanggal 6 April 2024 sangat terasa di kalangan masyarakat.
“Roda ekonomi dan sosial masyarakat berdampak karena penutupan jalan,” ujarnya, Kamis (18/4/2024).
Menurutnya, dari segi ekonomi berdampak karena mayoritas UMKM masyarakat dibatasi untuk masuk ke aset BRIN, hal itu jelas mengurangi tingkat konsumsi.
“Selain ekonomi juga ada dampak sosial yang lainnya,” terangnya.
Damoak sosialnya, kata Nurhendra, warga harus memutar jalan yang cukup jauh untuk sekedar bersosialisasi ataupun mengantar anak ke sekolah.
Nurhendra menjelaskan, terlebih saat sistem one way Tangsel aktif dari jam 6 pagi sampai jam 9.
“Warga kami juga ada yang memang bersekolahnya di Wilayah Dekat atau Wilayah Kampung Setu, ada juga dari warganya dari Gunung Sindur, ini yang agak menjadi berputar aranya,” jelasnya.
Nurhendra memberikan contoh dirinya dari arah Muncul mau ke arah Setu harus memutar melalui akses Bundaran Tekno ke Perempatan Viktor dan sampai ke tujuan.
“Betul, kurang lebih sampai, itu saya pernah coba dengan anak saya dari misalnya akan dia 5 menit sampai sekolah, sampai 15 -20 menit,” tutupnya.(Eka)















