TANGSEL, HALOBANTEN.COM — Menteri Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) RI Maman Abdurrahman melakukan kunjungan kerja ke Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Lengkong Wetan, Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (29/7).
Kunjungan ini dilakukan dalam rangka mendorong kemitraan rantai pasok antara UMKM lokal dengan SPPG yang menjadi bagian penting dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) nasional.
Sebelum meninjau langsung dapur SPPG, Maman menyambangi salah satu suplayer lokal yang terlibat dalam rantai pasok pangan di wilayah Pamulang.
Ia juga bertemu dengan sekitar 50 pelaku UMKM dari berbagai sektor.
“Tadi sebelum kesini kami mengunjungi salah satu suplayer yang ikut terlibat dalam proses rantai pasok di dapur ini, di Pamulang. Dan sekaligus berkumpul dengan kurang lebih ada 50an suplayer, dari macem-macem. Ada suplayer sayur, buah-buahan, ikan, daging, ayam, telur, dan bahkan ada juga yang berkeinginan belum menjadi suplayer, mereka tadi hadir dan hadir juga yang tadi mendapatkan kesempatan dari BGN di Tangsel ini ada kurang lebih sekitar 5 titik langsung mereka bersedia untuk mengambil suplayer-suplayer barang-barang,” ujar Maman Abdurrahman.
Ia menegaskan bahwa program SPPG tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi anak-anak, namun juga menggerakkan ekonomi masyarakat di akar rumput.
“Dan ini menjadi sebuah prinsip ekonomi sederhana di masyarakat, di lapisan bawah. Nanti nya poin yang ingin kami sampaikan bahwa selain tadi memberikan efek asupan gizi kepada anak-anak kita, ini juga memberikan efek ekonomi yang sangat luar biasa besar,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Maman menyampaikan apresiasi kepada Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, atas pelaksanaan program yang telah menjangkau ribuan titik di seluruh Indonesia.
“Dan saya tentu nya sebagai Menteri UMKM mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Kepala Badan Gizi Nasional Pak Dadan, karena kalau beliau semakin kencang, UMKM-nya juga semakin dapat kemanfaatan, Pak Wali makin seneng sebagai pemilik wilayah,” ujarnya.
Ia juga mengakui bahwa dalam pelaksanaan program sebesar ini, berbagai kekurangan pasti akan ditemui, namun hal itu bukan alasan untuk melemahkan semangat bersama.
“Nah ini adalah program yang luar biasa, kalau ada pertanyaan apakah sempurna? Tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Maka dari itu semuanya kita evaluasi, beliau tetap akan melakukan yang terbaik. Per hari ini ada 2.390 titik yang sudah terealisasi, kalau ada satu isu, satu problem, saya pikir itu harus dipahami sebagai bagian dari human error. Jadi jangan digeneralisir, dianggap semua program ini dianggap gagal. Karena tadi saya tanya kepada masyarakat, bahkan tadi ada yang pekerja juga ikut masuk disitu, jadi ingin saya sampaikan ini kemanfaatannya buat masyarakat di lapisan bawah sudah luar biasa,” ujarnya.
Maman pun mengajak semua pihak untuk mendukung dan memperkuat pelaksanaan program ini.
“Jadi saya berharap mohon yuk kita sama-sama dukung, kita support, dan ada yang kurang-kurang kita bantu. Jangan malah dibesar-besarkan yang kurangnya, justru yang lebih-lebihnya kita besarkan,” ujarnya.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, pihak Kementerian UMKM bersama BGN turut menempelkan label “SPPG Ramah UMKM” sebagai bentuk dorongan partisipasi lebih luas dari para pelaku usaha kecil dan menengah.
“Dan kami tadi sudah bersama-sama dengan kepala BGN, kita tempelkan SPPG Ramah UMKM. Tujuannya untuk memotivasi dan mendorong semakin banyak UMKM yang terlibat dalam program ini,” ujarnya.
Tak hanya itu, Maman menekankan pentingnya menjaga kualitas produk UMKM karena konsumennya adalah anak-anak.
“Dan ini tadi dari dapur, lalu ada suplayer setempat kita dorong bersama-sama dengan pemerintah wilayah, kita dorong, kita pertemukan dan Alhamdulillah akan terjadi kontrak kerja mereka dan ini profesional. Namun tadi ada penekanan satu hal, tolong kualitas dijaga, karena ini untuk anak-anak kita,” ujarnya.
Ia pun memastikan bahwa BGN telah menyiapkan mekanisme kontrol untuk menjaga kualitas layanan dan pasokan bahan pangan.
“Dan di BGN juga ada mekanisme kontrolnya yang sudah disiapkan, jadi dari pemberian sanksi, memanggil, segala macam itu sudah kita lakukan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BGN Dadan Hindayana menjelaskan bahwa SPPG merupakan bagian penting dari sistem ekosistem gizi nasional yang tidak hanya menyediakan makanan bergizi, namun juga menjadi ruang interaksi ekonomi dan edukasi.
“Program makan bergizi gratis ini memang investasi terbesar pemerintah Republik Indonesia, tapi kami kemas dalam bentuk ekosistem. Makanya ada satuan pelayanan pemenuhan gizi, itu tidak disebut dapur karena dapur adalah fungsi dari SPPG. Fungsi yang kedua adalah tempat pertemuan antara produsen, atau suplayer, dengan pembeli,” ujar Dadan.
Selain itu, lanjutnya, SPPG juga melibatkan tenaga ahli untuk menyusun menu berbasis potensi lokal.
“Yang ketiga kan disini ada ahli gizi dan itu yang ngemas menu berbasis potensi sumber daya lokal,” ujarnya.
Menurut Dadan, satu unit SPPG dapat menyerap hingga 50 tenaga kerja langsung. Hingga kini, tercatat ada 2.391 titik SPPG yang telah beroperasi dan mempekerjakan lebih dari 94 ribu orang.
“Dan satu SPPG seperti ini kan mempekerjakan 50 orang, jadi sekarang sudah terbentuk 2.391. sudah menyerap 94.000 tenaga kerja yang bekerja di SPPG, belum yang di suplayer. Karena 1 SPPG membutuhkan 15 suplayer minimal,” ujarnya.
“Suplayer mempekerjakan 5 sampai 15 sudah bisa kita hitung berapa efek ekonominya,” ujarnya.
Dadan menyebutkan bahwa untuk wilayah Tangerang Selatan sendiri, dibutuhkan sekitar 169 titik SPPG, dengan proyeksi perputaran ekonomi yang sangat besar.
“Dan di Tangsel ini kurang lebih harus ada sekitar 169 SPPG, bisa kita hitung tuh 169 kalau satu SPPG butuh 3.500 telur sehari dikalikan 169 dan dana yang masuk ke SPPG seperti ini sepuluh miliar per tahun. Jadi kalau 169 itu hampir 2 triliun uang Badan Gizi masuk ke Tangsel,” ujarnya. (Alif)















