Tangerang, HALOBANTEN.COM — Malam itu, suasana Taman Makam Pahlawan Nasional Raden Aria Wangsakara terasa khidmat. Cahaya lampu temaram, doa, serta lantunan zikir menyatu dalam peringatan Haul ke-345 Pahlawan Nasional sekaligus pendiri Tangerang, Raden Aria Wangsakara, Rabu (21/1/2026).
Gubernur Banten Andra Soni hadir dalam momentum spiritual dan historis tersebut. Bagi Andra, haul bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang bersama untuk merawat ingatan kolektif tentang perjuangan para leluhur.
“Bangsa besar lahir dari rasa hormat terhadap para pendahulu. Haul ini mengingatkan kita pada keteladanan dan keberanian Raden Aria Wangsakara,” ujar Andra Soni di hadapan para tokoh agama, masyarakat, dan peziarah.
Nama Raden Aria Wangsakara tercatat kuat dalam sejarah Banten Timur. Sosok ulama sekaligus pejuang ini memainkan peran penting dalam perlawanan terhadap kolonialisme, sekaligus menyebarkan ajaran Islam yang berakar pada nilai persatuan dan keadilan.
Penghargaan negara melalui gelar Pahlawan Nasional menjadi penanda kontribusi besar tersebut. Namun bagi generasi hari ini, mengenang saja tidak cukup. Menurut Andra, nilai perjuangan itu perlu hadir dalam kebijakan nyata yang menyentuh kehidupan rakyat.
“Semangat beliau kami lanjutkan melalui pembangunan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat,” kata Andra.
Pembangunan sebagai Warisan Nilai
Pemerintah Provinsi Banten, lanjut Andra, terus mendorong pembangunan infrastruktur perdesaan lewat program Bangun Jalan Desa Sejahtera atau Bang Andra. Program ini menyasar konektivitas desa sebagai penggerak ekonomi warga.
Selain itu, sektor pendidikan juga menjadi prioritas melalui program sekolah gratis bagi siswa SMA, SMK, dan SKh swasta. Andra menegaskan, seluruh kebijakan tersebut berangkat dari cita-cita luhur para pendiri daerah.
“Inilah ikhtiar kami agar kesejahteraan rakyat sejalan dengan nilai perjuangan para leluhur, termasuk Raden Aria Wangsakara,” ucapnya.
Tangerang dan Warisan Religi
Bupati Tangerang Mochamad Maesyal Rasyid menyampaikan pandangan senada. Ia mengajak masyarakat meneladani kepemimpinan Raden Aria Wangsakara sebagai ulama besar sekaligus tokoh yang pengaruhnya melampaui wilayah Banten.
Menurut Maesyal, kawasan makam Raden Aria Wangsakara kini tumbuh sebagai pusat wisata religi dan kajian keislaman. Peziarah datang dari berbagai daerah untuk mengenang sekaligus belajar sejarah.
“Kawasan makam ini menjadi ruang spiritual masyarakat. Pemerintah Kabupaten Tangerang berkomitmen melakukan penataan agar peziarah merasa lebih nyaman,” tutur Maesyal.
Tiga Peran, Satu Teladan
Ketua Yayasan Raden Aria Wangsakara, Sirojudin Ruyani, menjelaskan bahwa Haul ke-345 mencerminkan penghormatan atas tiga peran utama Wangsakara: Pahlawan Nasional, ulama penyebar Islam, serta pendiri Tangerang.
“Haul ini menjadi pengingat bahwa Tangerang berdiri atas perjuangan, iman, dan pengorbanan,” ujar Sirojudin.
Di tengah arus modernisasi, haul Wangsakara kembali menegaskan satu pesan penting: pembangunan sejati berakar pada sejarah, nilai, dan keteladanan para pendahulu. Jika ingin melangkah jauh, masyarakat Banten perlu terus menengok jejak yang telah membuka jalan.
(Red)























