Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM — Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar rapat koordinasi dengan tema mengantisipasi dampak kemarau panjang dan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Rapat tersebut berlangsung di Hotel Grand Zuri BSD, Tangerang Selatan. Pertemuan membahas kondisi terkini serta langkah penanganan terhadap dampak erupsi Gunung Anak Krakatau dan kekeringan di wilayah Tangsel.
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, masing-masing organisasi perangkat daerah (OPD) menyampaikan perkembangan kondisi serta langkah penanganan yang telah dan akan dilakukan.
“Rapat koordinasi Forkopimda pada hari ini membahas terkait penanganan masalah bencana erupsi Gunung Anak Krakatau dan juga bencana kekeringan di wilayah Tangsel,” ujar Pilar.
Menurutnya, Pemkot Tangsel juga memperoleh informasi serta dukungan dari instansi vertikal di wilayah Tangerang Selatan untuk menangani bencana secara bersama-sama.
Pemkot Lakukan Penyemprotan
Terkait dampak abu vulkanik, Pemkot Tangsel sebelumnya melakukan penyemprotan atau dust suppression di sejumlah wilayah. Langkah tersebut bertujuan menekan sebaran abu agar tidak terhirup masyarakat.
Selain penyemprotan, Dinas Kesehatan Tangsel menyalurkan masker melalui sejumlah fasilitas kesehatan, Puskesmas, Posyandu, hingga kegiatan Ngider Sehat.
Palang Merah Indonesia (PMI) juga membagikan ribuan masker kepada masyarakat di tujuh kecamatan. Pembagian berlangsung terutama di kawasan alun-alun dan sejumlah ruas jalan.
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel terus berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengenai arah sebaran abu vulkanik.
Pilar menyebut aktivitas Gunung Anak Krakatau mengalami penurunan secara drastis berdasarkan informasi per 10 September 2026.
“Memang sudah turun secara drastis aktivitas Anak Gunung Krakatau. Mudah-mudahan ke depan bisa reda,” katanya.
Pilar juga menyinggung perkembangan pencarian salah satu warga Tangsel yang merupakan bagian dari tim lima jurnalis yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
Menurut Pilar, pemerintah pusat dan pemerintah provinsi terus berkoordinasi dalam proses pencarian tersebut. Ia juga menyampaikan rencana doa bersama yang digelar pada siang hari atas informasi dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).
“Mudah-mudahan kita berdoa bersama, warga kita, kawan jurnalis yang memang kondisinya saat ini belum ditemukan bisa kembali dengan kondisi selamat, sehat walafiat,” ujarnya.
Progres PSEL Cipeucang
Dalam kesempatan tersebut, Pilar juga menjelaskan perkembangan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Cipeucang.
Ia mengatakan proses penetapan lokasi, appraisal, hingga pembayaran lahan masih berjalan. Kebutuhan lahan untuk proyek tersebut mencapai total lima hektare.
Saat ini, Pemkot Tangsel tengah melakukan proses pengadaan sekitar 2,3 hektare lahan. Pilar memastikan proses pendanaan tidak mengalami kendala.
“Untuk pendanaan antara sendiri sudah bertemu terakhir dengan Pak Wali Kota, insya Allah tidak ada kendala. Masalah administrasi kita doakan saja segalanya lancar,” katanya.
Pemkot Tangsel menargetkan pembebasan lahan rampung pada tahun 2026 sesuai tahun anggaran yang berjalan.
Mengenai harga tanah, Pilar menyebut prosesnya masih berjalan. Penentuan harga akan mengacu pada hasil appraisal dari konsultan independen berdasarkan harga pasar.
Pemkot Tangsel juga akan kembali berdiskusi dengan masyarakat terkait hasil penilaian tersebut.
“Ini kepentingannya kepentingan publik, bukan kepentingan buat pribadi. Harga pasar ini ditentukan oleh konsultan appraisal yang memang independen,” jelasnya.
Pilar berharap masyarakat mendukung proses tersebut karena proyek itu berkaitan dengan kepentingan bersama.
Antisipasi Kekeringan dan Kebakaran
Pemkot Tangsel juga menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran, khususnya di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang.
Pilar mengatakan sekitar 70 persen area Cipeucang saat ini telah melalui proses pengurugan menggunakan tanah. Langkah tersebut bertujuan menutup sampah agar tidak muncul ke luar dan mudah tersulut api.
Pemkot Tangsel juga melakukan clearing area di sekitar Cipeucang untuk mencegah warga dari luar memasuki kawasan dan melakukan pembakaran sampah.
Selain itu, area Cipeucang mendapat penjagaan selama 24 jam oleh tim Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Cipeucang.
“Saya sudah menyampaikan kepada Kepala UPT-nya untuk selalu melakukan penjagaan, jangan sampai ada aktivitas-aktivitas warga masyarakat di sekitar lingkungan Cipeucang, terutama pembakaran sampah,” ungkap Pilar.
Menurutnya, pengurugan menjadi salah satu langkah mitigasi untuk menutup sampah agar tidak longsor sekaligus mengurangi potensi kebakaran.
(LIF)

























