Pandeglang, HALOBANTEN.COM — Tujuh daerah irigasi Banten kini mendukung pengairan 881,28 hektare sawah pada empat wilayah lumbung pangan. Gubernur Banten Andra Soni meresmikan tujuh daerah irigasi tersebut di DI Cisata, Desa Tegal, Kecamatan Cikedal, Pandeglang, Rabu (2/9/2026). Enam daerah irigasi lainnya mengikuti peresmian secara virtual bersama kepala daerah masing-masing.
Pemprov Banten mengalokasikan Rp48,91 miliar dari APBD 2025 untuk menangani jaringan irigasi tersebut. Total panjang penanganan mencapai 6,90 kilometer dengan cakupan layanan 881,28 hektare sawah.
Tujuh jaringan itu tersebar pada empat kabupaten. Pandeglang memiliki DI Cisata, Cilember, dan Cisangu Atas. Selanjutnya, Lebak memiliki DI Cibinuangeun dan Cikoncang. Serang memiliki DI Ciwuni, sedangkan Tangerang memiliki DI Cilampek.
Andra Soni mengatakan pembangunan irigasi menjadi bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan Banten. Menurutnya, infrastruktur tersebut harus memberi manfaat langsung bagi petani melalui pengairan yang lebih lancar. “Membangun irigasi berarti membangun fondasi ketahanan pangan,” kata Andra.
Selain itu, Pemprov Banten mendapat dukungan APBN melalui Inpres Nomor 2 Tahun 2025. Program tersebut mencakup 12 daerah irigasi dengan panjang penanganan sekitar 81,80 kilometer. Program itu juga mencakup luas layanan 9.259 hektare dengan pagu anggaran Rp471,92 miliar.
Kolaborasi tersebut meningkatkan cakupan layanan irigasi Banten dari 52,5 persen menjadi 62,45 persen. Namun, Andra menilai perbaikan jaringan saja belum cukup. Pemerintah juga perlu menjaga ketersediaan air dari kawasan hulu. “Kalau irigasinya sudah baik, tinggal kita tangani wilayah hulunya,” ujarnya.
Menurut Andra, langkah tersebut penting agar aliran air tetap tersedia saat musim kemarau. Dengan begitu, petani dapat menjaga pola tanam dan meningkatkan produktivitas sawah.
Target Produktivitas Pertanian Naik
Selain memperbaiki irigasi, Andra Soni menyiapkan perluasan program Modern Advanced Agricultural System atau MAAS. Program Kementerian Pertanian tersebut menargetkan peningkatan produktivitas dari enam ton menjadi 12 ton per hektare.
Andra juga menekankan perlindungan lahan sawah, perbaikan irigasi, serta penataan kawasan hulu. Pemerintah juga berupaya menjaga harga pupuk dan gabah. Langkah tersebut berjalan bersama peningkatan produktivitas pertanian. “Lahan persawahan kita lindungi, saluran irigasi kita perbaiki, wilayah hulu kita tata,” tegas Andra.
Pada acara tersebut, Andra menyapa petani yang hadir langsung maupun mengikuti kegiatan secara virtual. Ia juga menyerahkan sejumlah peralatan pertanian kepada Kelompok Tani Telaga Baru.
Anggota Poktan Telaga Baru, Aprudin (55), menyambut baik revitalisasi saluran irigasi Cisata. Menurutnya, saluran tersebut memiliki peran penting bagi aktivitas pertanian warga setempat. “Dulu irigasi ini kurang berfungsi secara baik, sehingga air yang mengalir ke sawah juga sedikit,” ujar Aprudin.
Kondisi itu membuat petani lebih banyak mengandalkan hujan untuk memulai masa tanam. Saat kemarau panjang, petani bahkan menghadapi risiko gagal panen akibat minimnya cadangan air.
Petani lainnya, Ubeh (55), juga merasakan manfaat perbaikan saluran tersebut. Ia mengatakan petani sebelumnya hanya mampu menghasilkan sekitar enam kuintal gabah setiap petak dalam sekali panen.
Kini, petani berharap dapat meningkatkan frekuensi panen hingga tiga kali dalam setahun. “Kalau sebelumnya kita hanya bisa sampai dua kali panen, tahun ini bisa sampai tiga kali,” katanya.
Poktan Telaga Baru memiliki sekitar 54 anggota. Kelompok tersebut juga mendukung modernisasi metode pertanian melalui program pemerintah. “Kita dukung program Pak Gubernur untuk modernisasi metode pertanian,” ujar Ubeh.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Banten Arlan Marzan mengatakan penguatan irigasi juga perlu menyasar kawasan hulu. Arlan menjelaskan jaringan irigasi tidak menghasilkan air. Ketersediaan air bergantung pada sumber, curah hujan, debit, dan kondisi musim. Karena itu, jaringan irigasi berfungsi menyalurkan air yang tersedia secara optimal kepada masyarakat dan petani.
Menurut Arlan, keberhasilan pembangunan tidak hanya terlihat dari rampungnya pekerjaan fisik. Petani juga harus merasakan manfaat berupa aliran air yang lebih lancar, teratur, dan efisien. “Kehilangan air akibat saluran dapat ditekan,” ujar Arlan.
Ia menambahkan, petugas dapat mengatur distribusi air melalui pintu-pintu jaringan irigasi sesuai kebutuhan.
(DAR/JAR)






















