News » TANGERANG RAYA » Tangsel Catat 879 Anak Stunting per Agustus, Setu Jadi Wilayah dengan Kasus Terbanyak

Tangsel Catat 879 Anak Stunting per Agustus, Setu Jadi Wilayah dengan Kasus Terbanyak

Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Kasus stunting di Tangerang Selatan (Tangsel) mencapai 879 anak berdasarkan hasil pengukuran pada Agustus 2026. Data stunting tersebut menunjukkan prevalensi sebesar 0,75 persen dari jumlah anak di tujuh kecamatan dan 54 kelurahan.

Pemerintah Kota Tangsel terus mendorong penanganan stunting melalui langkah preventif, promotif, dan pemulihan.

Data tersebut kemudian menjadi acuan bagi kecamatan untuk menyusun langkah penanganan sesuai kondisi setiap anak.

BACA JUGA

Setiap data juga memuat identitas serta alamat anak secara rinci.

Selanjutnya, petugas dapat mendatangi keluarga untuk mengidentifikasi faktor yang memengaruhi kondisi anak.

Setu Catat Angka Tertinggi

Kecamatan Setu menjadi wilayah dengan jumlah anak stunting terbanyak di Tangsel.

Berdasarkan data Agustus, Setu mencatat 119 anak dengan prevalensi sebesar 1,57 persen.

Pemerintah kota meminta jajaran kewilayahan mencari faktor penyebab pada setiap kasus.

Faktor tersebut dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan, asupan gizi, ekonomi, maupun pola hidup keluarga.

Karena itu, penanganan stunting tidak hanya mengandalkan sektor kesehatan.

Pemerintah juga melibatkan puskesmas, posyandu, organisasi masyarakat, Kementerian Agama, serta unsur kewilayahan.

Penanganan Sesuai Faktor Penyebab

Jika lingkungan rumah tidak sehat, pemerintah dapat mengarahkan program pembangunan septic tank.

Sementara itu, kondisi rumah yang kumuh dapat memperoleh penanganan melalui program bedah rumah.

Jika orang tua mengalami anemia atau kekurangan energi kronis, tenaga kesehatan akan memberikan penanganan.

Selain itu, pemerintah dapat menghubungkan keluarga dengan bantuan pangan atau program penempatan kerja.

Pemerintah juga menyoroti pola makan dan pola hidup sebagai faktor yang perlu mendapat perhatian.

Kondisi ekonomi yang baik belum tentu menjamin keluarga menerapkan pola hidup sehat.

Karena itu, edukasi mengenai makanan bergizi, pola asuh, istirahat, dan kebiasaan sehat terus diperlukan.

Pemerintah mencatat prevalensi stunting tahun ini turun dibandingkan tahun sebelumnya.

Tahun sebelumnya, prevalensi tercatat sekitar 0,79 persen, sedangkan tahun ini mencapai 0,75 persen.

Meski angkanya masih berada di bawah satu persen, pemerintah menargetkan penurunan hingga mendekati nol persen.

Pemerintah juga mengajak pihak swasta meningkatkan kepedulian terhadap kualitas sumber daya manusia.

Upaya tersebut menjadi bagian dari penanganan stunting sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan.

(LIF)

BERITA LAINNYA