”Minimal kebutuhan daerah kita sendiri bisa terpenuhi dari hasil kita sendiri sentra cabe di Desa Tanjungsari, Desa Kadubeureum, Kecamatan Pabuaran dan Desa Pondok Kahuru, Kecamatan Padarincang itu mulai produksi cabe,” katanya.
Untuk produksi cabe merah di Kecamatan Pabuaran seluas 20 hektare terbagi untuk Desa Tanjungsari 10 hektare dan Desa Kadubeureum 10 hektare. Untuk produksinya pertahun, kata Suhardjo, dari satu hektare sebanyak 3,5 ton kalau 20 hektare berarti 60 ton permusim, ini bisa 2 musim pertahunnya kalau dua kali sekitar 250 ton.
“Sebenarnya kebutuhan cabe di kita itu hampir 300 ton perbulannya apalagi menjelang hari raya idul fitri, ramadhan itu akan lebih banyak lagi karena orang masak butuh cabe,” terangnya
“Saat ini menjelang lebaran kita coba kalkulasikan supaya pada saat menjelang lebaran kita bisa panen untuk memenuhi kebutuhan warga kita,” ucapnya.
Suhardjo menyebutkan, jika untuk kebutuhan cabe merah di Kabupaten Serang kurang lebih dalam setahun sekitar 80 sampai 100 ton belum bisa terpenuhi dari hasil produksi yang dihasilkan.
“Nanti kita manfaatkan lahan-lahan tidur kita manfaatkan untuk menanam cabe,”katanya.
Terkait kendala, Suhardjo memaparkan yang pertama masyarakat belum terlatih.
Masyarakat bisa senang melihat menanam cabe jika sudah berhasil, mereka akan menanam maka perlu di atur untuk penanaman dan panennya sehingga harga tetap stabil.
“Karena modal yang dibutuhkan Rp60 sampai 62 juta per hektarnya itu dengan sewa lahan pertahun, pertahun kurang lebih Rp5 juta untuk sewa lahannya maka kita atur tanam dna panennya,” paparnya.















