Mereka menerapkan sistem contraflow guna merekayasa lalu lintas dan menjaga kelancaran arus kendaraan. Kapten Kavaleri Sigit Suseno Prabowo menyebut, sedikitnya 20 pohon tumbang di berbagai kelurahan Serpong. Tim gabungan TNI, polisi, dan aparat keamanan Pemkot Tangsel langsung membersihkan lokasi untuk kelancaran jalan raya.
Beberapa baliho roboh juga terjadi di dua titik. Satu unit bus sempat tertimpa pohon tumbang, namun beruntung tidak mengalami kerusakan berarti dan tidak menimbulkan korban jiwa. Saat ini, lalu lintas berangsur normal setelah petugas selesai mengevakuasi pohon.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan cuaca ekstrem melanda Tangsel dan sekitarnya. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menyebut situasi ini muncul karena masa pancaroba, yaitu peralihan dari musim kemarau ke musim hujan, yang memicu fenomena atmosfer tidak stabil. Peristiwa ini terjadi di Serpong, Ciputat, Pamulang, dan BSD.
Guswanto memperingatkan, potensi hujan lebat dan angin kencang masih terjadi di wilayah Jabodetabek hingga 13 Oktober 2025.
Masyarakat wajib waspada terhadap kemungkinan bencana hidrometeorologi seperti banjir lokal, pohon tumbang, dan gangguan lalu lintas.
BMKG telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan lebat, petir, dan angin kencang di wilayah Banten dan Jabodetabek.
Prakiraan BMKG menunjukkan cuaca Jabodetabek tidak menentu pada 7-14 Oktober 2025, dengan periode waspada pada 7-9 Oktober dan 10-13 Oktober.
Masyarakat perlu menghindari berteduh di bawah pohon besar atau papan reklame saat hujan deras dan mewaspadai potensi pemadaman listrik atau genangan air.
(Alif/Jar/Red)















