Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Budaya bakar sampah di Tangsel masih menjadi perhatian Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan meminta masyarakat segera meninggalkan kebiasaan tersebut.
Menurut Pilar, budaya bakar sampah di Tangsel muncul sejak kawasan permukiman masih longgar. Namun, kondisi itu kini berubah karena rumah berdiri saling berdekatan.
Ia menilai sebagian warga masih memakai pola pikir lama. Padahal, asap pembakaran kini mudah menyebar ke rumah tetangga.
“Yang perlu disosialisasikan itu terkait bakar sampah atau nabun. Dulu kanan-kiri masih kebun. Sekarang sudah menjadi perumahan,” ujar Pilar.
Selain mengganggu kenyamanan, asap pembakaran juga mengancam kesehatan warga. Anak-anak dan kelompok rentan berisiko mengalami infeksi saluran pernapasan.
“Karena sampah dibakar, ada anak-anak yang terkena ISPA dan masalah kesehatan lainnya,” katanya.
Iuran Sampah Dinilai Lebih Murah daripada Dampak Pembakaran
Pilar mengajak masyarakat mengubah kebiasaan mengelola sampah. Ia menilai membakar sampah bukan solusi yang tepat.
Menurutnya, alasan utama warga masih membakar sampah karena ingin menghemat biaya iuran pengangkutan.
“Saya sering bertanya, kenapa bakar sampah? Jawabannya supaya tidak bayar iuran sampah,” ujarnya.
Pilar menegaskan biaya iuran sampah sebenarnya cukup terjangkau. Besarannya berkisar Rp15 ribu hingga Rp35 ribu setiap bulan.
Ia bahkan membandingkan biaya tersebut dengan pengeluaran membeli rokok. Menurutnya, pengeluaran rokok jauh lebih besar.
Karena itu, Pilar meminta warga lebih memprioritaskan kesehatan lingkungan. Ia juga mengingatkan pembakaran sampah berpotensi memicu kebakaran.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat. Langkah itu bertujuan membangun kebiasaan mengelola sampah yang lebih aman, sehat, dan ramah lingkungan.
(LIF)


























