ia nilai tidak benar.
Agus menuturkan bahwa masalah pencemaran ini sudah berlangsung puluhan tahun.
Pencemaran Tingkat Kritis
Pencemaran sudah mencapai tingkat kritis. Air sumur di rumahnya sudah tercemar semua dan air lindi sudah masuk ke dalamnya.
Dampak terhadap kesehatan juga sangat terasa oleh keluarga dan warga sekitar.
“Wah, itu (dampak terhadap kesehatan,red) bukan ini lagi. Banyak. Saya juga gatal-gatal, nih. Keluarga saya juga,” ujar Agus.
Meskipun TPA sudah berdiri dan menimbulkan dampak selama bertahun-tahun, Agus menyatakan bahwa kompensasi baru ia terima setahun terakhir.
“Ada, baru-baru tahun ini, Rp250 ribu setahun,” ujarnya.
Lebih parah lagi saat ada hujan di wilayah tersebut. Semua air hujan yang mengguyur sampah mengalir ke permukiman warga.
“Kalau ujan ya airnya pada ke sini, pokoknya air sampah ini udah ngalirnya udah gak karuan lah ke tanah warga semua,” ujarnya
Ia mempertanyakan nilai uang kompensasi yang tidak sebanding dengan kerugian lingkungan dan kesehatan warga selama puluhan tahun.
Agus berharap pemerintah segera mengambil tindakan serius untuk menata dan mengelola TPA Cipeucang dengan benar.
“Harapan saya sih, sebagai warga di sini ya penataan dan pengelolaan sampah harus benar dan ramah lingkungan,” ujarnya.
“Di sini sampah cuman mereka tarik ke sini, tarik ke sono, itu doang. Tidak benar pengelolaannya” tutupnya.
(Alif/Jek/Red)















