Serpong, HALOBANTEN.COM – Forum Lintas Agama Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) gelar silaturahmi di Kawasan Nusa Loka BSD Serpong, Sabtu (25/3/2023).
Pertemuan ini salah satunya membahas tentang antisipasi berbagai konflik yang mengatasnamakan agama serta dalam rangka memperkuat kerukunan antar umat beragama dan toleransi dalam bingkai NKRI.
“Di luar, sering terjadi konflik-konflik yang mengatasnamakan agama, oleh karena itu, kami pemuda Ansor mengajak semua pihak agar kita selalu menjaga keharmonisan dan kerukunan antar umat beragama,” imbuh Satkorcab GP Ansor Kota Tangsel, Niman Tito di sela acara silaturahmi tersebut.
Kegiatan itu pun mendapat respon positif dari tokoh perwakilan agama katolik, Ambrosius Sutarja.
Pria yang menjabat sebagai Humas Forum Lintas Agama perwakilan dari agama Khatolik itu mengatakan, Konsep Bhineka Tunggal Ika merupakan identitas bangsa negara Indonesia.
Kalimat itu hakikatnya diadopsi dari filsafat nusantara sebagai moto pemersatu atas adanya keragaman yang ada di Indonesia.
Menurutnya, dalam sejarah pergerakan kemerdekaan, bangsa Indonesia telah mencapai titik kesepakatan trilogi kebangsaan, yaitu Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa yang dikenal dengan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Perbedaan daerah, suku, agama dan bahasa lokal telah diendapkan dalam kesadaran kolektif kebangsaan yang lebih luas.
Nikmat kemerdekaan yang saat ini dirasakan tidak lepas dari peran dari para pahlawan yang berjuang memperebutkan kemerdekaan dari tangan penjajah yang didasari dengan semangat persatuan dan kesatuan dalam keberagaman suku bangsa dan agama yang dipererat dengan bingkai kerukunan dalam bingkai NKRI.
“Menjadi kewajiban kita untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan demi kemajuan bangsa yang lebih baik,” kata Ambrosius.
“Oleh karena itu, butuh kerjasama dan peran serta dari semua pihak tanpa memandang asal usul suku, ras, agama dan dari golongan manapun karena tujuan kita hanya satu yakni mempertahankan NKRI tercinta,” ujarnya.
Hak beragama adalah hak yang sudah lama dikenal dan kemudian dikukuhkan secara universal melalui deklarasi universal hak asasi manusia (duham).
Hal ini secara tegas disebutkan sebagai hak yang paling dasar (basic human rights). Hak yang tidak dapat dikurangi atas nama dan/atau karena alasan apapun.
Pengakuan terhadap hak beragama didasarkan pada satu asas yang fundamental, yaitu penghargaan dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Sehingga harus dijaga dan jangan sampai hanya karena isu-isu yang beredar membuat perpecahan antar beragama terjadi.
“Saya berharap, kegiatan ini, kedepannya bisa melibatkan seluruh Ormas yang ada. Mari kita jaga kerukunan umat beragama. Jangan sampai kita mudah dipecah belah dengan isu apapun,” imbuhnya.
Ambrosius yakin, GP Ansor ini tidak mudah dipecah belah dan masyarakatnya akan tetap menjaga kerukunan umat beragama.
“Sebagaimana slogan kami, harmonis dalam keberagaman. Saya ingin mengajak masyarakat Bersama-sama membangun kerukunanan antar umat beragama dan Toleransi dalam bingkai Menjaga NKRI, bahu membahu,” ajaknya.
(Wal/Jek)






















