JATIM, HALOBANTEN.COM – Mimin baru aja ngakak sekaligus istighfar lihat video di akun Getizen yang nunjukkin POV hidup di Jawa Timur. Bukan pemandangannya yang bikin melongo, tapi gegara… SOUND HOREGNYA TEMBUS 130 DESIBEL! Seriusan, 130! Itu bukan suara konser internasional BTS, tapi sound system truk atau panggung dangdutan lokal yang suaranya bisa bikin UFO kabur ke galaksi lain.
130 Desibel? Ini Bahaya Level Maksimal Gaes
Mari kita bedah sejenak. Angka 130 desibel itu udah masuk kategori super bahaya buat kuping kita. Standar WHO dan CDC bilang, batas aman paparan suara cuma 85 dB itu pun maksimal 8 jam. Kalau udah nyentuh 100 dB, durasi amannya tinggal 15 menit. Nah, 130 dB? Itu sama aja kayak kamu berdiri 100 meter dari jet yang lagi take-off! Kalau sering denger suara segede itu, siap-siap aja: pendengaranmu bisa rusak permanen. Bukan cuma budeg sesaat, tapi saraf pendengaranmu bisa mati pelan-pelan. Serem kan?!
Knalpot Racing Ditilang, Sound Horeg Aman Sentosa? Ada Apa Ini?!
Lucunya, atau lebih tepatnya mirisnya, kita hidup di negara di mana anak motor bisa kena tilang karena knalpot racing dibilang mengganggu ketertiban umum. Tapi kalau ada ‘sound horeg’ sekelas bandara Soekarno-Hatta buka cabang di tengah kampung, kok ya adem ayem aja? Nggak ada Satpol PP kasih surat cinta, nggak ada teguran! Seolah-olah hukum desibel ini cuma berlaku buat yang punya motor, bukan buat para pemilik panggung yang sound system-nya bisa bikin bumi bergetar.
Padahal, yang kena dampaknya bukan cuma kuping orang dewasa yang udah kebal, tapi juga bayi yang lagi nyenyak tidur (kalau bisa tidur), lansia yang lagi sakit, anak sekolah yang lagi fokus ujian, bahkan mimin yang cuma pengen rebahan tenang biar besok kerja nggak jadi zombie. Tapi ya begitulah, kadang suara keras malah dianggap hiburan, bukan polusi. Padahal ini polusi suara yang sesungguhnya! Nggak kelihatan, tapi dampaknya nyata: stres ningkat, jantung deg-degan, tidur berantakan, dan lama-lama bikin pengen kabur ke gua (sayang nggak ada guanya).
Mungkin udah saatnya kita, sebagai warga +62, mulai sadar. Volume itu bukan ukuran kebahagiaan. Dan hiburan itu nggak harus bikin tetangga pengen beli alat bantu dengar.
Kalau kamu sayang kuping, dan masih pengen dengerin suara cucu nanti, yuk kurangi volumenya! Karena hidup yang damai itu… nggak harus pakai subwoofer 10.000 watt. Setuju? (*/bbs)















