News » TANGERANG RAYA » Pendidikan Inklusif Tangsel Diperkuat, Pemkot Siapkan Fasilitas ABK dan Insentif Guru

Pendidikan Inklusif Tangsel Diperkuat, Pemkot Siapkan Fasilitas ABK dan Insentif Guru

Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Pendidikan Inklusif Tangsel terus menguat melalui peningkatan fasilitas sekolah dan kompetensi guru. Pemerintah Kota Tangerang Selatan menilai kesiapan infrastruktur serta tenaga pendidik menjadi faktor utama keberhasilan layanan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Pendidikan Inklusif Tangsel juga mendapat dukungan melalui pembangunan sekolah baru yang ramah ABK. Pemerintah menghadirkan fasilitas khusus untuk mendukung kenyamanan dan mobilitas siswa berkebutuhan khusus di lingkungan sekolah.

Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, mengatakan sekolah baru mulai menerapkan konsep inklusif. Salah satu fasilitas yang sudah tersedia yaitu toilet khusus bagi siswa ABK.

BACA JUGA

Menurut Pilar, pemerintah akan terus menambah fasilitas pendukung lain sesuai kebutuhan sekolah inklusif. Langkah itu bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang lebih ramah dan setara.

Pendidikan Inklusif Tangsel Butuh Guru Kompeten

Selain infrastruktur, Pemkot Tangsel fokus meningkatkan kemampuan guru reguler. Banyak tenaga pendidik masih memerlukan pelatihan khusus terkait metode pembelajaran inklusif.

Pilar mendorong setiap sekolah memiliki minimal satu guru dengan keahlian pendidikan inklusif. Pemerintah juga menyiapkan program pelatihan dan sertifikasi secara berkala.

Selain itu, Pemkot Tangsel mempertimbangkan pemberian insentif khusus bagi guru yang memiliki kompetensi pendidikan inklusif. Kebijakan tersebut diharapkan meningkatkan minat guru untuk mendalami bidang tersebut.

Dinas Pendidikan Soroti Kendala Asesmen Siswa

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tangsel, Deden Deni, mengungkapkan tantangan lain dalam penerapan sekolah inklusif. Tantangan tersebut muncul saat proses identifikasi dan asesmen siswa.

Menurut Deden, sebagian orang tua belum memahami kondisi anak secara menyeluruh. Kondisi itu sering membuat orang tua memilih sekolah reguler tanpa mempertimbangkan kebutuhan khusus anak.

Situasi tersebut kerap memicu ketidakpuasan karena perkembangan belajar anak tidak sesuai harapan. Akibatnya, sekolah menerima keluhan dari orang tua setelah proses pembelajaran berlangsung.

Deden menilai edukasi kepada orang tua menjadi langkah penting untuk mengatasi masalah tersebut. Ia juga menekankan perlunya kesamaan pemahaman mengenai batas layanan sekolah inklusif dan Sekolah Luar Biasa (SLB).

Pemerintah berharap sinergi antara sekolah, guru, dan orang tua dapat memperkuat layanan pendidikan inklusif di Tangerang Selatan. Upaya itu sekaligus membuka akses pendidikan yang lebih tepat bagi setiap anak sesuai kebutuhannya.

(LIF)

BERITA LAINNYA