HALOBANTEN, – Sebuah perpaduan indah antara warisan seni batik dan kekayaan budaya lokal Tangerang kini semakin bersinar melalui berbagai kreasi yang memukau.
Para pengrajin dan pelaku seni di Tangerang berhasil mengembangkan motif-motif batik yang terinspirasi dari elemen-elemen unik daerah mereka, seperti ikon-ikon kota, cerita rakyat, dan keindahan alam sekitar.
Inisiatif ini tidak hanya melestarikan tradisi batik yang adiluhung, tetapi juga mengangkat identitas budaya Tangerang ke tingkat yang lebih tinggi. Melalui sentuhan modern dalam desain dan pewarnaan, batik Tangerang kini tampil lebih segar dan menarik bagi berbagai kalangan, termasuk generasi muda.
Berbagai upaya terus dilakukan untuk mempromosikan kreasi batik dan budaya Tangerang, mulai dari pameran seni, lokakarya, hingga kolaborasi dengan desainer ternama. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap warisan budaya sendiri dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di daerah Tangerang.
Sebagai kota yang multikultural, Tangerang memiliki serangkaian motif batik otentik yang memadukan pengaruh budaya Sunda, Betawi, dan Tionghoa. Perpaduan ini menghasilkan karya seni batik yang merefleksikan harmoni keberagaman masyarakatnya dalam goresan desain yang indah.
Beberapa motif batik kebanggaan Kota Tangerang antara lain:
* Motif Lenggang Cisadane: Mengisahkan keindahan 13 penari dari 13 kecamatan yang membawakan Tari Lenggang Cisadane, sebuah tarian yang memadukan elemen dari berbagai tradisi tari.
* Motif Perahu Naga: Terinspirasi dari tradisi perlombaan perahu naga di Sungai Cisadane, sebuah acara bersejarah sejak tahun 1910 yang menjadi bagian dari Festival Peh Cun masyarakat Cina Benteng.
* Motif Jembatan Berendeng: Mengabadikan ikon Kota Tangerang, Jembatan Berendeng, yang menghubungkan Tangerang Barat dan Timur.
* Motif Pintu Air Sepuluh: Menggambarkan bangunan bersejarah Pintu Air Sepuluh, sebuah landmark yang dibangun pada masa kolonial Belanda tahun 1927 dan masih berfungsi hingga kini.
* Motif Al-A’zhom: Menampilkan desain Masjid Raya Al-A’zhom dengan lima kubahnya yang unik, sebuah mahakarya arsitektur yang menggabungkan gaya Yunani, Romawi, dan Banten yang dibangun pada tahun 1997.
* Motif Jam Gede Jasa: Merepresentasikan Jam Gede Jasa, salah satu ikon modern Kota Tangerang.
Pemerintah Kota Tangerang aktif dalam melestarikan warisan batik ini melalui berbagai program. Inisiatif seperti Tangerang Fashion Week, lomba desain batik, festival dengan area khusus batik, dan kelas membatik secara rutin diselenggarakan.
Karya batik Kota Tangerang kini dapat ditemukan di berbagai pusat oleh-oleh, termasuk hotel dan Bandara Soekarno-Hatta. Selain itu, Kota Tangerang juga memiliki Kampung Batik di Kelurahan Larangan Selatan sejak tahun 2017, yang menjadi pusat pelestarian dan pengembangan batik lokal. (*/bbs)















