Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Derita warga di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang, Kademangan, Kecamatan Setu, kian parah.
Pengelolaan sampah yang semakin brutal berdampak serius terhadap warga sekitar. Setiap hari, siang dan malam, mereka harus merasakan penderitaan tiada akhir.
Udara pagi yang seharusnya segar dan baik untuk kesehatan saat menghirupnya justru malah manjadi penyakit dan menyesakkan dada.
Di malam hari, warga harus menghirup udara yang baunya lebih menyengat dari udara pagi dan siang.
Derita warga tak hanya sampai di situ. Sumur yang selama ini menjadi kebutuhan pokok untuk mandi dan mencuci, kini telah tercemar air Lindi dari sampah TPA Cipeucang.
Dampak dari penggunaan air sumur ini juga cukup serius. Warga mengalami gatal-gatal dan berbagai penyakit kulit.
Sementara untuk kebutuhan masak dan minum, warga mengeluarkan uang dari saku sendiri untuk membeli air galon.
Belum lagi, berbagai jenis binatang lalat tak bosan-bosannya menyerbu makanan dan bahan makanan serta minuman di dalam rumah dan dapur.
Penderitaan warga di sekitar TPA Cipeucang ini sudah berlangsung setiap hari selama bertahun-tahun. Ironisnya perhatian pemerintah daerah sangat minim.
Bantuan Dana Kompensasi Tak Layak
Konpensasi yang warga terima dari Pemkot Tangerang Selatan (Tangsel) tahun 2025 ini sangat tidak seimbang. “Hanya di kisaran Rp250 ribu,” ucap Agus, warga Cipeucang Kademangan RT003/03 Kecamatan Setu, Rabu (12/11/2025).
Ia secara gamblang menceritakan kondisi keprihatinan hidup dia dan keluarga bertetangga dengan gunung sampah TPA Cipeucang selama ini.
Jarak rumah Agus dengan gundukan sampah TPA Cipeucang hanya sekitar lima meter.
Air lindi dan tumpukan sampah mudah masuk ke area tanah milik warga.
Kondisi lingkungan sekitar semakin parah akibat pengelolaan sampah yang















