Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Persoalan sampah yang menumpuk di kawasan depan Puskesmas Serpong dan sebagian lahan Universitas Indonesia (UI) memunculkan sorotan terhadap peran Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan (DLH Tangsel). Penumpukan tersebut muncul akibat minimnya pengawasan serta pembiaran lintas waktu dari sejumlah pihak.
Dayat, pengelola aset UI di kawasan Serpong, mengungkapkan bahwa aktivitas pembuangan sampah liar atau TPS liar di area tersebut telah berlangsung lama dan terus berulang. Ia menyebut UI pernah menjalin komunikasi resmi dengan DLH Tangsel untuk meminta penanganan persoalan sampah yang berada tepat di depan kawasan kampus.
Menurut Dayat, pengiriman surat tersebut berlangsung sekitar tahun 2012. Saat itu, pihak DLH Tangsel menyampaikan komitmen untuk melakukan pembersihan. Pada awalnya, langkah tersebut sempat membuahkan hasil karena tumpukan sampah berkurang. Namun, seiring waktu dan pergantian kepemimpinan, pengawasan kembali melemah hingga penumpukan sampah muncul lagi secara masif.
“Awalnya ada respons, tapi lama-lama tidak ada teguran lanjutan. Akhirnya sampah terus bertambah,” kata Dayat saat memberikan keterangan, Jumat (12/12/2025).
Buang Sampah di Malam Hari
Dayat juga menuturkan bahwa pelaku pembuangan sampah kerap beraksi pada malam hari, bahkan memanfaatkan area lahan UI. Ia mengaku pernah menerima laporan dari petugas keamanan kampus terkait munculnya tumpukan sampah secara tiba-tiba. Kondisi tersebut mendorong koordinasi dengan aparat setempat, termasuk Bhabinkamtibmas dan Danramil, guna memberi peringatan kepada warga.
Sebagai langkah pencegahan, Dayat mengambil inisiatif dengan menanami area lahan kosong menggunakan pohon pisang. Upaya tersebut bertujuan agar lokasi tidak terlihat terbuka dan menarik bagi pelaku pembuangan sampah. Cara tersebut, menurutnya, cukup efektif karena warga mulai memahami larangan membuang sampah di area kampus.
Masalah serupa juga terjadi di depan Puskesmas Serpong. Dayat menyebut aktivitas pembuangan sampah berlangsung hampir enam tahun, baik oleh warga sekitar maupun pendatang. Ia menggambarkan bahwa setiap malam selalu ada kantong sampah yang tertinggal, bahkan sempat memicu insiden kecelakaan lalu lintas akibat kondisi jalan yang terganggu.
Upaya pengendalian sebenarnya pernah muncul dari perangkat lingkungan setempat. Ketua RW bersama warga sempat melakukan patroli rutin pada dini hari untuk mencegah pembuangan sampah sembarangan. Kegiatan tersebut sempat menekan volume sampah, meskipun masih ada pelanggaran dari warga luar wilayah.
Menurut Dayat, kondisi semakin parah ketika area tersebut beralih fungsi menjadi tempat transit sampah. Pedagang dan warga yang menuju pasar memanfaatkan lokasi itu sebagai titik pembuangan sementara. Akibatnya, sampah menumpuk sejak sore hingga malam hari, lalu truk pengangkut dari DLH Tangsel baru mengambilnya pada pagi hari.
“Sore hari mulai penuh, habis Maghrib sudah terlihat menumpuk. Pagi baru ada pengangkutan,” ujarnya.
Bahaya Sampah Dekat Puskesmas
Lokasi penumpukan sampah yang berdekatan dengan fasilitas kesehatan dan lingkungan pendidikan menimbulkan kekhawatiran serius. Dayat menilai kondisi tersebut tidak layak dari sisi kesehatan. Ia mencontohkan keluhan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UI yang terganggu aroma menyengat sampah saat jam makan siang, terutama ketika truk pengangkut melintas.
Dayat berharap adanya langkah bersama antara pihak UI dan Puskesmas Serpong untuk kembali mengirimkan surat resmi kepada DLH Tangsel. Ia menekankan perlunya kebijakan tegas agar kawasan depan fasilitas kesehatan tidak lagi menjadi lokasi pengumpulan sampah.
“Area Puskesmas tidak layak menjadi tempat pengepokan sampah. Ini menyangkut kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan potensi risiko penyakit, terutama pada musim hujan. Tumpukan sampah, menurutnya, berpotensi menjadi sarang kuman dan hewan pembawa penyakit yang dapat membahayakan warga sekitar.
(Alif/Jek/Red)















