Jakarta, HALOBANTEN.COM – PT Danantara Investment Management (Persero) mengungkap bahwa saat ini baru empat dari tujuh kota memperlihatkan kesiapan memulai tender proyek PSEL (Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik) atau Waste-to-Energy (WTE). Proses tender empat kota ini resmi Danantara buka sejak 6 November 2025.
Managing Director Investment Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja, menjelaskan tujuh kota awal merupakan usulan yang Danantara terima dari Kementerian Lingkungan Hidup.
“Setelah kami melakukan pengecekan ke lapangan, yang paling siap berada pada empat kota. Jadi, kami sudah memulai tender untuk empat kota,” ujar Stefanus saat bertemu media di Menara Bank Mega, Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Empat Kota Menjadi Prioritas
Empat kota yang menjadi tahap awal implementasi proyek PSEL Danantara (yang menargetkan total 33-34 kota di seluruh Indonesia) adalah Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta.
“Ada empat kota yang sudah kami review dan cek dan sudah mulai tendernya, itu adalah Bogor, Bekasi, Denpasar dan Yogyakarta,” jelas Stefanus.
Tender yang Danantara laksanakan menggunakan mekanisme limited tender. Peserta tender hanya terbatas pada 24 perusahaan global penyedia teknologi yang masuk Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) Danantara batch pertama, yang prosesnya rampung sebulan sebelumnya.
Ke-24 perusahaan tersebut meliputi nama-nama besar seperti Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering, ITOCHU Corporation, Veolia Environmental Services Asia, China Everbright Environment Group, hingga Chongqing Sanfeng Environment Group.
Konsorsium Global-Lokal Jadi Syarat Wajib
Dalam tender tersebut, Danantara meminta 24 perusahaan global itu membentuk kemitraan atau konsorsium bersama perusahaan lokal—baik swasta, BUMN, maupun BUMD—untuk melakukan penawaran (bid) di empat kota tersebut.
Danantara memberi waktu kepada konsorsium itu untuk menyerahkan dokumen penawaran. “Kami kasih waktu dalam dua bulan ke depan, awal Januari [2026] itu harusnya yang 1 A, dua kota pertama akan sudah submit. Dan seminggu berikutnya untuk dua kota berikutnya,” terang Stefanus.
Stefanus berharap tiga kota lain dalam batch pertama menyusul. Setelah semua penawaran masuk, Danantara akan meninjau dan menentukan konsorsium pemenang tender.
Animo Pemain Lokal Tinggi
Stefanus Ade Hadiwidjaja mencatat, proyek PSEL Danantara ini menarik perhatian besar dari pemain lokal. Sebelum Danantara menetapkan 24 nama perusahaan global dalam DPT, sebanyak 200 perusahaan menyatakan minat dan 60 perusahaan melakukan pengajuan aplikasi.
“Saya yakin banyak yang tertarik, soalnya dari yang awal registrasi 200 itu, bahkan [60 perusahaan] yang melakukan submission aplikasi itu, juga banyak pemain lokal sebenarnya,” kata Stefanus.
Danantara tidak terlibat dalam proses pembentukan konsorsium; 24 perusahaan dalam DPT Danantara mempunyai kebebasan menjalin komunikasi dengan calon mitra lokal.
Stefanus menegaskan bahwa minat tinggi terhadap proyek PSEL Danantara ini muncul berkat skema baru yang Danantara anggap menarik. Skema tersebut Danantara atur dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Baru Terbarukan.
Salah satu perubahan signifikan dalam regulasi ini yaitu Danantara menghapus tipping fee Pemerintah Daerah, komponen yang selama ini kerap menjadi kendala. Komponen itu Danantara gantikan oleh pengaturan harga pembelian tenaga listrik oleh PT PLN (Persero) sebesar $0,20 per kilowatt per jam (kWh) untuk semua kapasitas pembangkit.
Menurut Stefanus, proyek PSEL Danantara ini membawa dua manfaat penting: economic return dan social return. “Ini yang lebih penting adalah masalah penyelesaian darurat sampah yang sudah terjadi di berbagai macam kota. Jadi dua hal, economic return dan social return. Kalau keduanya Danantara gabung, ini sebenarnya sangat baik,” tutupnya.
(*/Red)
























