Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten, Yudi Budi Wibowo, menegaskan bahwa kasus bullying atau perundungan di sekolah bukanlah hal sepele. Ia menyoroti maraknya fenomena ini, terlebih setelah mencuatnya kasus perundungan di SMPN 19 Tangsel yang mengakibatkan satu alumni luka serius.
Menurut Yudi, semua pihak harus menyikapi bullying dengan serius karena menyangkut masa depan generasi muda.
Yudi berpendapat, masyarakat tidak bisa lagi memandang kasus perundungan sebagai “kenakalan anak-anak” atau masalah pertemanan semata. Ia menegaskan perilaku bullying meninggalkan dampak psikologis mendalam, serta berpotensi merusak kepercayaan diri dan masa depan korban.
“Bullying bukan sekadar kenakalan anak, tapi ancaman serius bagi masa depan anak-anak kita,” ujar Yudi Budi Wibowo, politisi asal Daerah Pemilihan (Dapil) Kota Tangerang Selatan (Tangsel).
Sekolah Harus Jadi Tempat Aman
Yudi memandang sekolah semestinya menjadi tempat yang aman, nyaman, dan penuh empati untuk seluruh peserta didik. Ia mengingatkan agar sekolah tidak berubah menjadi ruang yang menumbuhkan ketakutan, tekanan sosial, atau luka batin bagi anak-anak.
“Sekolah harus jadi ruang aman dan penuh empati, bukan tempat lahirnya luka. Saya berharap kita semua di Tangsel berkomitmen memperkuat pendidikan karakter dan pengawasan agar tidak ada lagi anak yang merasa sendirian,” tegasnya.
Guna mencegah perundungan muncul kembali di sekolah, Yudi mendorong berbagai pihak mengambil langkah konkret. Ia menekankan pentingnya peran institusi pendidikan dan pemerintah daerah, khususnya Pemkot Tangsel.
Langkah utama yang ia sarankan adalah memastikan tiap sekolah memiliki sistem pencegahan dan penanganan bullying secara jelas dan terukur.
“Langkah konkretnya, pertama kita dorong setiap sekolah di Tangsel untuk punya sistem pencegahan dan penanganan bullying yang jelas, mulai dari pelaporan yang aman, pendampingan konselor, sampai pembinaan karakter di kelas,” ungkap Yudi.
Selain itu, ia memandang keterlibatan semua unsur pendidikan mulai dari guru, orang tua, hingga siswa sangat penting. Yudi menekankan perlunya membangun kesadaran bersama lewat kampanye anti-bullying berkelanjutan.
“Kedua, kita libatkan guru, orang tua, dan siswa dalam kampanye anti-bullying agar semua sadar bahaya dan dampaknya,” ujarnya.
Yudi menambahkan, sekolah harus membangun budaya sehat dengan prinsip saling menghargai dan menghormati perbedaan. Ia yakin, sekolah yang mampu menciptakan















