sepenuhnya tercermin dalam Produk Domestik Bruto (PDB) sektor kesehatan, sebab banyak aktivitas produksi produk kesehatan masih bergantung pada impor.
“Konsekuensinya, aktivitas ekonomi yang menciptakan nilai, menciptakan PDB, dan menciptakan lapangan kerja terjadi di luar negeri. Karena itu, saya sangat mendukung adanya inisiatif-inisiatif di Kawasan Ekonomi Khusus, baik untuk manufaktur alat kesehatan, farmasi, rumah sakit, laboratorium, maupun industri kesehatan lain, untuk membangun fasilitas manufaktur di Indonesia, agar kontribusinya menjadi pertumbuhan ekonomi di dalam negeri dan menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Menkes.
Ia memperkirakan industri kesehatan akan mengalami perkembangan pesat. Faktor utamanya meliputi populasi Indonesia yang makin menua, peningkatan spending kesehatan, dan potensi naiknya belanja kesehatan dari Rp640 triliun menjadi Rp1.400 triliun. “Peluang ini besar sekali, sehingga saya ingin teman-teman terus mendorong konsep pembangunan industri di dalam negeri, khususnya industri kesehatan,” tegasnya.
KEK Sebagai Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru
Selain Menteri Kesehatan, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, Susiwijono Moegiarso, turut hadir dan mengapresiasi forum diskusi tersebut. Beliau menekankan bahwa KEK memegang peranan kunci dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Pengembangan KEK dan Kawasan Industri diharapkan berfungsi sebagai

















