Kota Tangerang, HALOBANTEN.COM – Nobar film Sayap-sayap Patah 2 Olivia digelar oleh Polres Metro Tangerang Kota, Polda Metro Jaya.
Kegiatan nonton bareng film Sayap-sayap Patah 2 Olivia ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kewaspadaan terhadap ancaman terorisme di tengah masyarakat.
Film yang diputar mengisahkan perjuangan seorang anggota Densus 88 antiteror dalam mengungkap jaringan teroris, hingga harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan putri tercintanya yang bernama Olivia.
Kegiatan Nobar Sayap-sayap Patah 2, Olivia ini berlangsung di Mall Tangcity dan dihadiri oleh Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho, beserta Ketua Bhayangkari Cabang Tangerang Kota, Ny Wanda Zain Dwi Nugroho.
Turut hadir pula Wakapolres, AKBP Eko Bagus Riyadi, Wakil Ketua Bhayangkari Cabang Tangerang Kota, Ny Shasha Eko Bagus Riyadi, para Pejabat Utama (PJU) Polres beserta istri dan anak-anak, serta para Kapolsek jajaran beserta keluarga mereka.
Film Sayap-sayap Patah 2 Olivia merupakan produksi dari Denny Siregar Production dengan durasi tayang 1 jam 54 menit dan disutradarai oleh Ferry Fei Irawan.
Aktor Arya Saloka memerankan tokoh utama seorang polisi berpangkat AKP bernama Pandu yang bertugas sebagai anggota Densus 88 Antiteror.
Ancaman Radikalisme Masih Nyata dan Perlu Diwaspadai
Usai menyaksikan film tersebut, Kombes Pol Zain Dwi Nugroho menyampaikan bahwa terdapat banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari film Sayap Sayap Patah 2 Olivia.
Salah satu poin utama yang ditekankan adalah bahwa ancaman radikalisme masih nyata dan perlu diwaspadai oleh seluruh elemen masyarakat.
Ia mengimbau agar lingkungan sekitar terus diawasi dengan baik sehingga masyarakat tidak mudah terpapar paham radikalisme.
Dengan memahami ancaman paham ini, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif membantu pihak kepolisian dalam mencegah penyebarannya.
Menurut Kombes Pol Zain, jaringan paham radikal memiliki karakteristik yang luas, tertutup, dan masih berakar kuat.
Kelompok teroris terus berupaya memperluas jaringan dan menanamkan ideologi radikal mereka di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi kunci penting untuk mendeteksi dini potensi ancaman di lingkungan sekitar.
Ia juga menekankan pentingnya kepedulian dan komunikasi yang baik antarwarga.
Jika ada individu yang mencurigakan di lingkungan, masyarakat diharapkan dapat segera mengetahuinya dan mengambil tindakan yang diperlukan.
Setiap Perjuangan Perlu Pengorbanan
Dalam pesannya kepada keluarga anggota Polri, Kombes Pol Zain menyampaikan bahwa sebagai abdi negara, anggota Polri juga merupakan manusia biasa yang harus terus berjuang untuk keluarga tercinta.
Setiap perjuangan memerlukan pengorbanan, termasuk waktu, tenaga, dan bahkan jiwa raga untuk negara.
Ia juga mengingatkan agar keluarga besar Polri selalu siap menerima segala konsekuensi dari tugas sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat.
Pemahaman tentang risiko tugas dan penanaman rasa cinta tanah air kepada keluarga menjadi hal yang sangat penting.
“Keluarga Polri harus selalu siap menghadapi tantangan dan resiko ke depan. Memilih sebagai anggota Polri ini bukan hanya untuk keluarga, tetapi pengabdian untuk masyarakat,” tegas Kombes Pol Zain.
Ny Wanda Zain sebagai pendamping anggota Polri menyatakan bahwa dirinya memiliki kewajiban untuk terus mendukung dan memberikan semangat kepada suami.
Ia memahami bahwa polisi adalah pelindung, pelayan, dan pengayom masyarakat, sehingga pengabdiannya tidak hanya untuk keluarga semata.
Beri Pemahaman Pada Anak
Sebagai seorang ibu, Ny Wanda Zain juga selalu memberikan pemahaman kepada anak-anaknya tentang beratnya tugas seorang anggota polisi.
Segala risiko yang mungkin dihadapi sang ayah juga telah disampaikan kepada mereka.
Ny Shasha Eko menambahkan bahwa sejak awal pernikahan, dirinya telah memahami risiko dan konsekuensi menjadi pasangan seorang anggota Polri.
Ia mengaku terharu saat menonton film tersebut, terutama adegan yang melibatkan anak-anak sebagai korban.
Sebagai informasi, film ‘Sayap-sayap Patah 2 Olivia’ terinspirasi dari peristiwa Bom Gereja di Samarinda pada tahun 2016.
Peluncuran kembali penayangan film ini diharapkan dapat memberikan nilai positif bagi anggota Polri dan masyarakat luas akan bahaya paham radikalisme.
(Jek/Red)















