News » TANGERANG RAYA » Ratusan Pelajar Tangsel Berisiko Depresi, Tekanan Akademik Jadi Sorotan

Ratusan Pelajar Tangsel Berisiko Depresi, Tekanan Akademik Jadi Sorotan

Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM – Ratusan pelajar Tangsel berisiko depresi berdasarkan hasil skrining kesehatan mental melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Selain itu, temuan pelajar Tangsel berisiko depresi menunjukkan perlunya perhatian terhadap kesehatan mental generasi muda.

Program CKG tidak hanya memeriksa kondisi fisik masyarakat. Pemeriksaan tersebut juga memetakan potensi gangguan kesehatan mental pada kelompok usia sekolah.

BACA JUGA

Skrining Temukan Gejala Depresi

Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie mengatakan, CKG menemukan sejumlah penyakit yang cukup menonjol.

Menurut Benyamin, hipertensi dan diabetes menjadi penyakit yang banyak muncul dalam pemeriksaan kesehatan masyarakat.

Namun, petugas juga menemukan sejumlah pelajar dengan gejala depresi dalam proses skrining kesehatan.

“Depresi kebanyakan anak-anak, enggak terlalu banyak sih, tapi ditemukan gejala seperti itu,” kata Benyamin.

Benyamin menilai temuan tersebut membutuhkan tindak lanjut secara terarah. Karena itu, pemerintah mengandalkan fasilitas kesehatan yang tersedia.

Selain itu, cakupan jaminan kesehatan masyarakat Tangsel yang tinggi dapat membantu proses penanganan lanjutan.

Dengan dukungan tersebut, masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan tanpa terlalu terbebani persoalan biaya.

Tekanan Akademik Jadi Faktor Utama

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar menjelaskan mekanisme skrining kesehatan mental bagi pelajar.

Menurut Allin, petugas menggunakan enam pertanyaan sederhana untuk mengetahui kondisi emosional peserta.

Pertanyaan tersebut mencakup rasa gelisah, kekhawatiran, serta kondisi tidur dalam dua pekan terakhir.

“Ini adalah skrining sederhana dengan menanyakan enam pertanyaan,” ujar Allin.

Hasil skrining menunjukkan tekanan akademik dan ketidakpastian masa depan menjadi keluhan yang cukup dominan.

Meski demikian, hasil skrining tersebut belum menunjukkan diagnosis depresi secara medis.

Allin menegaskan, temuan tersebut hanya menggambarkan tingkat risiko kesehatan mental pada pelajar.

Karena itu, Dinkes Tangsel mengutamakan edukasi dan pemetaan masalah di lingkungan sekolah.

Selain itu, pihak sekolah perlu membangun komunikasi dengan tenaga kesehatan untuk menentukan langkah berikutnya.

“Ini hanya risiko, risiko depresi,” pungkas Allin.

(LIF)

BERITA LAINNYA