Jabar, HALOBANTEN.COM – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, angkat bicara menanggapi artikel Majalah Tempo berjudul “Setelah Jokowi Terbitlah Mulyadi” dan kritik pedas dari pengamat politik Rocky Gerung. Kritik tersebut khususnya menyoroti kebijakannya yang sempat mengirimkan anak-anak bermasalah ke barak militer.
Melalui sebuah video yang diunggah di media sosial, Dedi Mulyadi memulai tanggapannya dengan mengapresiasi kebebasan pers dan laporan Tempo. “Terima kasih kepada Tempo yang telah memberikan analisis dan kajian yang mendalam tentang saya. Saya sangat respek terhadap apa yang disajikan karena itu bagian dari dinamika berdemokrasi dan kebebasan media dalam mengungkap fakta dan data,” ujar Dedi pada Jumat (23/5).
Meski demikian, Dedi merasa perlu meluruskan beberapa informasi yang dianggapnya kurang tepat. Salah satu poin yang dikoreksi adalah tudingan bahwa ia pernah memanggil Sekretaris Daerah (Sekda) dengan gelar “patih” atau “maha patih” saat menjabat Bupati Purwakarta.
“Itu tidak tepat. Sekda saya yang pertama, Pak Maman Rosama, tidak pernah saya panggil dengan sebutan seperti itu. Sekda kedua, almarhum Pak Hamimulyana, dan yang ketiga, Pak Haji Fadil Karsoma, juga tidak pernah dipanggil begitu,” tegasnya.
Dedi juga membantah klaim bahwa dirinya dipanggil “raja” oleh bawahan baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. “Itu tidak pernah terjadi,” imbuhnya.
Menanggapi sindiran Rocky Gerung yang menyebut kebijakannya terkait barak militer sebagai “pemikiran dangkal”, Dedi Mulyadi memberikan balasan khasnya yang menohok.
“Saya memilih menjadi orang yang berpikiran dangkal, tapi melahirkan hamparan tanaman. Daripada mengaku pikirannya dalam, hanya membuat banyak orang tenggelam,” pungkas Dedi, menutup videonya dengan pesan optimisme dan ajakan untuk selalu tersenyum menghadapi kritik.
“Salam bahagia, sehat selalu. Dengan melangkah, hidup akan menjadi berkah,” tutupnya. (*/bbs)


























