Media Sosial Bukan Lagi “Sosial”? Ini Alasan Kenapa Kita Kini Hanya Jadi Penonton

Jakarta, HALOBANTEN.COM – Dulu, media sosial adalah rumah kita. Tempat kita berbagi tawa, kisah, dan terhubung dengan teman-teman. Facebook, Instagram, bahkan X (dulu Twitter), semuanya lahir dengan janji mempersatukan.

Tapi, mari jujur: janji itu kini terasa usang. Media sosial hari ini telah bertransformasi menjadi panggung raksasa, dan kita? Hanya penonton.

Perubahan drastis ini bukan sekadar perasaan. Mark Zuckerberg, CEO Meta sendiri, baru-baru ini mengakui bahwa era media sosial yang kita kenal dulu telah usai. Dalam keterangannya di hadapan regulator AS, Zuckerberg mengungkap fakta mengejutkan: hanya 17% konten di Facebook dan 7% di Instagram yang berasal dari lingkaran pertemanan kita. Sisanya? Murni sajian algoritma dari akun-akun asing, mulai dari selebriti hingga pedagang sandal.

BACA JUGA

Dari “Sosial” Menjadi “Hiburan”: Ketika Algoritma Menggantikan Pertemanan

Kini, Meta tak lagi bersaing dengan platform jejaring sosial sejenis X atau Snapchat. Musuh bebuyutan mereka adalah TikTok dan YouTube, raksasa hiburan berbasis video. Inilah arah baru yang diambil hampir semua platform: berubah dari “sosial berbasis media” menjadi “media hiburan berbasis sosial.”

Alhasil, feed kita sekarang penuh dengan video pendek yang menghibur, konten motivasi kilat, lelucon receh, dan potongan podcast viral. Kita memang terhibur, itu tak bisa dimungkiri. Namun, koneksi sejati? Itu semakin langka.

Ingat dulu, saat kita membuka Facebook untuk melihat kabar teman lama atau mengucapkan selamat ulang tahun? Sekarang, Instagram menyuguhkan “drama pasangan seleb TikTok” atau curhatan acak dari orang yang bahkan tak kita kenal. Interaksi pun bergeser. Komentar kini membanjiri akun publik, bukan lagi dinding teman sendiri. ‘Likes’ dan ‘views’ diburu demi viralitas, bukan kedekatan. Algoritma terus mendorong kita untuk terus menonton, melupakan esensi dari sebuah obrolan.

Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai “pergeseran dari koneksi ke konsumsi.” Jika dulunya media sosial tentang kita, kini ia tentang mereka: para kreator, selebgram, atau tokoh online yang menarik perhatian dan mendulang ‘engagement’. Media sosial telah bermetamorfosis menjadi televisi generasi baru, di mana kita hanyalah audiens, dan yang tampil adalah mereka yang “cukup menarik” untuk dipromosikan algoritma. Bahkan, aktivitas ‘scrolling’ kita pun bukan lagi berdasarkan keinginan kita, melainkan apa yang platform nilai akan membuat kita berlama-lama di sana.

Kita seolah terkunci dalam algoritma yang tahu persis apa yang membuat kita betah. Namun, dalam prosesnya, kita lupa bertanya kabar sahabat, lupa siapa yang sedang sakit, menikah, atau diam-diam kesepian. Semua tergerus oleh lautan video viral yang terus berganti.

Komunitas Semu dan Tantangan di Era Digital
Apakah semua ini salah? Tidak sepenuhnya.

Dunia dan kebiasaan terus berubah, dan perusahaan media sosial tentu harus beradaptasi. Konten hiburan memang memberikan ‘dopamine’ instan dan menjaga pengguna tetap ‘online’. Tapi, pertanyaan pentingnya adalah: apa yang kita korbankan dalam proses ini?

Prof. Jonathan Haidt, sosiolog digital dari Stanford, menyebut fenomena ini sebagai “komunitas semu.” Kita merasa dekat dengan orang yang kita tonton setiap hari, tapi nyatanya tidak mengenal mereka. Kita mungkin punya ribuan ‘followers’, tapi bingung mencari bantuan nyata saat motor mogok di jalan. Jangka panjangnya, kita tak hanya kehilangan koneksi, tapi juga rasa memiliki. Media sosial seharusnya menjadi tempat kita membangun makna, bukan sekadar menghabiskan waktu. (*/bbs)

BERITA LAINNYA

Next Post