Agar memahami mengapa harga BBM bisa fluktuatif dan apa sesungguhnya makna dari subsidi perlu diketahui alur dari produksi BBM. Perlu dipahami bahwa BBM yang digunakan oleh masyarakat hari ini berasal dari minyak mentah yang perlu melewati berbagai proses pengolahan, terlebih dahulu agar siap digunakan sebagai bahan bakar kendaraan dan tidak begitu saja diambil dari dalam bumi. Namun ada berbagai proses mulai dari drilling atau pengeboran hingga refinering atau pengilangan.
Lebih lanjut, tidak semua minyak yang digunakan oleh Pertamina berasal dari dalam negeri, karena besarnya kebutuhan masyarakat akan BBM maka Pertamina juga harus mengimpor beberapa persen dari kebutuhan minyak tersebut dari luar negeri.
Karena perlu mengimpor dari luar negeri maka tentu pemerintah melalui Pertamina perlu membayar kepada produsen minyak. Dan karena produksi minyak tersebut perlu melewati beberapa proses maka tenaga kerja yang bekerja dibalik setiap proses tersebut serta alat yang digunakan beserta biaya operasionalnya pun perlu dibayarkan.
Maka harga minyak yang dibayarkan oleh konsumen sesungguhnya bukan sekedar membayar “minyak” nya saja namun termasuk juga membayar segenap proses yang telah dilewati hingga minyak tersebut siap dikonsumsi menjadi BBM.
Jika harga minyak dari produsen naik tentu pemerintah Indonesia, dalam hal ini sebagai konsumen minyak mentah perlu membayar lebih kepada si “produsen minyak.” Hari ini karena beberapa faktor khususnya konflik di Ukraina dan Rusia, harga minyak mentah dunia melambung dengan cukup tinggi. Hal itu menyebabkan konsumen perlu membayar lebih tinggi dari biasanya. Nah kenaikan harga minyak mentah ini tentu akan mengakibatkan domino effect kepada harga BBM yang notabene bersumber dari minyak mentah.


























