Jakarta, HALOBANTEN.COM – Bukan peluncuran mobil baru yang jadi sorotan, namun akhir tahun fiskal 2024 bagi Nissan menjadi momen paling pahit. Raksasa otomotif Jepang ini secara mengejutkan merumahkan lebih dari 10.000 karyawan di seluruh dunia.
Angka ini menambah daftar panjang pemutusan hubungan kerja yang telah mencapai 20.000 orang, atau sekitar 15% dari total tenaga kerja Nissan secara global.
Badai PHK ini bukanlah tanpa alasan. Nissan dihantam kerugian bersih yang fantastis, mencapai 750 miliar yen atau lebih dari Rp84 triliun sepanjang tahun fiskal 2024. Padahal, proyeksi awal mereka “hanya” memperkirakan kerugian 80 miliar yen, yang ternyata jauh meleset dari kenyataan pahit.
Krisis finansial ini juga berujung pada perombakan pucuk pimpinan. Makoto Uchida harus lengser dari kursi kemudi pada Maret 2025, digantikan oleh Ivan Espinosa. Mantan direktur perencanaan ini kini mengemban misi berat: menyelamatkan Nissan dari keterpurukan.
Restrukturisasi besar-besaran ini bukan sekadar perbaikan kecil, melainkan ‘operasi ganti mesin’ total. Tekanan dari gejolak ekonomi global, cepatnya perubahan teknologi, pasar yang lesu, dan kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu, memaksa Nissan untuk mengambil langkah drastis dengan melakukan PHK massal.
Jadi, ketika Anda melihat iklan mobil Nissan yang memukau, ingatlah bahwa di balik kemewahan itu ada cerita ribuan karyawan yang kini tengah berjuang mencari pekerjaan baru. (*/bbs)















