News » BANTEN » Budayawan Uten Sutendy Angkat Bicara Soal Penanganan Sampah TPA Cipeucang : Pemkot Tangsel Hanya Berpikir Jangka Pendek

Budayawan Uten Sutendy Angkat Bicara Soal Penanganan Sampah TPA Cipeucang : Pemkot Tangsel Hanya Berpikir Jangka Pendek

Serpong, HALOBANTEN.COM – Kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang Serpong Kota Tangerang Selatan (Tangsel) Banten, sudah sangat memprihatinkan. Volume sampah sudah over kapasitas.

Kondisi tersebut mendapat sorotan dari banyak pihak. Tak terkecuali para tokoh masyarakat Kota Tangsel.

Salah satu Budayawan yang juga tokoh masyarakat Tangsel Uten Sutendy juga angkat bicara soal penanganan sampah di Tangsel serta pengelolaan sampah di TPA Cipeucang.

BACA JUGA

Menurut Uten, soal penanganan sampah dan TPA Cipeucang itu masalah klasik seperti tak ada ujung pangkalnya. Belum ada tinggal soal political will dari pemerintah Kota Tangsel.

“Itu yang selama ini ditunggu warga. Pemkot kurang berani mengambil keputusan besar soal sampah Cipeucang,” tegasnya.

Selama ini menurut Uten, Pemkot Tangsel hanya berfikir jangka pendek dan mengatasi sampah bersifat karitatif, tidak sistemik dan sustainable.

Misalnya, menyelesaikan soal sampah dengan cara membuang sampah ke daerah lain.

“Itu tak akan menyelesaikan persoalan,” katanya.

Persoalan sampah itu menurutnya jangan dianggap enteng, justru harus dianggap sebagai persoalan penting dan menjadi bagian integral dari pembangunan kota secara keseluruhan.

Sampah merupakan masalah terbesar dan penting bagi sebuah kota yang dialami oleh semua kota -kota di dunia yang padat penduduk.

Gunung sampah TPA Cipeucang Serpong Tangsel. (Foto: Jarkasih)

Apalagi Kota Tangsel yang populasi warganya hingga saat ini terus bertambah dan berkembang.

“Harusnya soal sampah menjadi agenda besar dan terintegrated dengan pembangunan sebuah kota secara menyeluruh. “Ini kan nggak. Seolah masalah sampah dianggap sebelah mata. Bagaimana Tangsel mau jadi liveble city (kota layak hidup) bila urusan dasar sampah saja belum bisa mengatasi,” kata Uten kepada halobanten.com, Kamis (18/4/2024).

Jangan menganggap seolah-olah sampah di TPA Cipeucang itu hanya persoalan kecil dan terpisah dari instansi lain atau aspek lain sehingga dari segi perhatian dan fokus anggarannya pun tidak terarah ke sana secara utuh.

“Soal Cipeucang harus dianggap penting dan prioritas agar tak terjadi persoalan lingkungan seperti sekarang ini,” jelasnya.

Kota modern sekelas Tangsel harusnya sudah bisa mengatasi soal sampah lebih moderen, menggunakan pendekatan Smart City, yaitu pembangunan kota berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi di semua semua aspek pembangunan kota. Termasuk soal penanganan sampah.

Menurut dia, Tangsel itu penduduknya sangat banyak tapi lahannya kecil. Jika Pemkot Tangsel masih melakukan pengelolaan sampahnya secara konvensional atau manual itu sudah tidak mungkin lagi.

Harus dengan high technology dan kolaborasi dengan pihak lain. Misalnya dengan pihak Puspitek atau Brin sekarang.

“Ya tentu saja harus bisa menggandeng investor,” tegasnya.

Menurutnya sudah banyak kota-kota di dunia dan daerah yang berhasil mengolah sampah dengan hi- tech, bahkan tekhnologinya juga sudah sangat berkembang. Tinggal dicontoh saja.

Bahkan BSD sendiri sudah bisa mengolah sampah dengan sangat baik. Itu juga bisa dicontoh oleh Pemkot Tangsel.

Sampah, kata Uten, sebenarnya bukan barang buangan yang tidak ada nilainya. Sampah bisa bernilai tinggi bila bisa dikelola dengan baik. Bisa menjadi bahan bangunan, menghasilkan teknologi listrik terbarukan, dan lainnya.

Para ahlinya sudah ada semua di Tangsel, di Puspiptek/BRIN, mereka semua bisa.

Nah, mengenai biaya itu persoalan klasik. Apa sih yang nggak pake biaya? Tapi semua itu tergantung kecerdasan kita untuk bagaimana membuat penggunaan dana lebih efisien.

Soal Tangsel menjadi smart city, kata Uten, sampai sekarang masih hanya jadi wacana di ruang-ruang formal saja.

Dalam kenyataanya Kota Tangsel masih terjebak dalam masalah klasik, yaitu kemacetan, banjir, dan sampah.

Tiga masalah itu yang menjadi janji dan agenda besar di awal pemerintahan Benyamin Davnie dan Pilar Saga Ichsan sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tangsel.

Jika tiga masalah dasar saja belum selesai, bagaimana Tangsel bisa melangkah ke pembangunan kota yang lebih smart dan visioner lagi.

Dirinya mengaku tidak terlalu paham mengenai banyaknya investor yang sudah bersedia mengelola sampah di Tangsel namun hingga kini masih tarik ulur.

Padahal jika kebijakan Pemkot Tangsel bisa fokus, misalnya dalam hal penanganan sampah, tidak menutup kemungkinan persoalan pengelolaan sampah sudah bisa teratasi.

Semua tergantung keberanian Wali Kota Tangsel untuk lebih fokus dan tegas dalam mengambil keputusan.

(Red)

BERITA LAINNYA