Benyamin Davnie mengatakan, penanganan banjir skala makro dan terintegrasi antara satu dan lainnya akan diinisiasi oleh Dinas Sumber Daya Air Bina Marga, dan Bina Konstruksi Kota Tangerang Selatan, melalui beragam cara yang akan dilakukan.
Intervensi tata ruang kita adalah menangani soal drainase. Apakah dengan drainase baru, atau perbaikan atau renovasi.
“Kemudian penyediaan RTH (Ruang Terbuka Hijau) publik dalam cara pengendalian intensitas melalui ruang terbuka hijau dengan memperluas daya serapan air,” terang Benyamin Davnie.
Selanjutnya, yakni persoalan kemacetan. Benyamin Davnie mengatakan, permasalahan ini terjadi tak lepas atas adanya pertumbuhan penduduk di wilayahnya
“Pertumbuhan perumahan serta kegiatan perdagangan dan jasa menyebabkan flow lalu lintas pada pagi, sore dan akhir pekan sangat tinggi. Lalu lintas harian rata-ratanya (LHR) cukup tinggi,” kata Benyamin Davnie.
Hal serupa juga berdampak pada permasalahan persampahan di wilayahnya.
“Begitu juga dengan persampahan. Dengan pertumbuhan permukiman dan pertumbuhan penduduk memberikan dampak peningkatan volume timbulan sampah dan belum adanya teknologi pengolahan sampah yang harus kita lakukan sampai dengan hari ini,” tutur Benyamin Davnie.
Sementara itu, untuk ruang investasi, penetapan zona perdagangan dan jasa baik di pusat pelayanan kota maupun linear. Untuk pariwisata, akan diterapkan sesuai dengan riparda sebagai teknik pengaturan zonasi conditional uses.
Untuk itu, melalui Konsultasi Publik RDTR ini, Benyamin Davnie berharap agar permasalahan serta isu strategis lainnya yang ada di Kota Tangerang Selatan dapat tertangani dengan baik.















