Riak LPG 3 Kg dan Tafsir ‘Politik Kebijakan’

Oleh: Yakub F. Ismail

Namun, untuk menakar seberapa dahsyat respons (negatif/positif) masyarakat, pelaku kebijakan umumnya melempar wacana terlebih dahulu.

Dalam kasus tertentu, ia tidak mengawali dengan sosialisasi atau penghembusan wacana, namun langsung dalam bentuk pengambilan kebijakan.

Tujuannya jelas, untuk mengukur riak sosial yang timbul setelah kebijakan tersebut ia ambil.

BACA JUGA

Jika reaksi negatifnya jauh lebih besar dan berdampak serius terhadap kestabilan politik, maka ia akan merevisi dan menyesuaikan kebijakan tersebut dengan tuntutan masyarakat.

Atau, dalam kasus lain, kebijakan tersebut langsung ia cabut kembali guna meredam gejolak publik yang semakin masif dan tidak terkendali.

Hapus Rantai Pasok LPG 3 kg di Tingkat Pengecer

Dalam konteks kebijakan penghapusan pengeceran LPG 3kg, ia lebih menyerupai contoh kasus yang terakhir ini.

Jadi, pemerintah langsung sekejap membuat keputusan menghapus rantai pasok LPG 3kg di tingkat pengecer, yang akhirnya menimbulkan kepanikan luar biasa di tingkat akar rumput.

Alhasil, karena melihat reaksi publik yang cenderung menentang terhadap kebijakan tersebut, pemerintah melalui Presiden RI Prabowo Subianto memerintahkan untuk dicabut kembali kebijakan tersebut.

Sangat mudah untuk memahami alasan Prabowo meminta penarikan kembali kebijakan tersebut.

Ia tentu tidak ingin citra positif di awal masa pemerintahannya rusak hanya karena kebijakan Bahlil Lahadalia yang kurang mencermati dampak sosialnya.

Apalagi, berdasarkan sejumlah hasil survei baru-baru ini, citra kepemimpinan Prabowo sangat positif dan ini menjadi sinyal baik untuk kelangsungan kepemimpinan beliau.

Jika saja reputasi ini hancur hanya karena kebijakan tabung gas LPG yang kurang cermat, tentu hal ini menjadi satu tamparan keras yang tidak bisa ia abaikan begitu saja.

Kekeliruan dan kekurangcermatan yang baru saja menimpa Menteri ESDM ini semoga menjadi bahan refleksi dan evaluasi bagi seluruh kementerian di era Prabowo-Gibran untuk lebih berhati-hati dalam menelurkan setiap kebijakan.

Sebab, salah dalam mengambil langkah, maka ia seperti menebar duri di atas jalan yang ia lewati.

Suatu ketika, cepat atau lambat, malapetaka akan hadir dan memporak-porandakan seluruh tatanan yang telah terbangun dengan letih.(*)

* Penulis adalah Ketua Umum Ikatan Media Online (IMO) Indonesia.

Redaksi:

Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.

BERITA LAINNYA

Next Post