JAKARTA, HALOBANTEN.COM – Drama seputar keabsahan ijazah Presiden Jokowi kembali memanas setelah beliau purnatugas. Yang menarik, riuhnya perbincangan soal ijazah ini justru diwarnai protes dari kader PDIP sendiri. Pertanyaannya, kok bisa partai besutan Megawati Soekarnoputri ini nekat mengusung Jokowi dua periode penuh, padahal isu ijazah ini sudah lama beredar?
Jokowi, yang memimpin Indonesia selama 10 tahun (2014-2024), kini jadi sorotan tajam. Banyak yang bertanya-tanya, apa yang membuat PDIP begitu yakin dengan pilihannya?
Politikus senior PDIP, Beathor Suryadi, akhirnya buka suara! Dalam obrolannya dengan eks Ketua KPK, Abraham Samad, di kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Beathor blak-blakan kalau PDIP sebenarnya “terjebak” hasil survei.
“Kalau PDIP tahu Pak Jokowi punya ‘dokumen enggak lengkap’, kenapa masih diusung jadi gubernur atau presiden? Kan bisa tolak dan bilang, ‘kader lain saja’?” tanya Abraham Samad penasaran.
Beathor pun menjelaskan bahwa saat itu, popularitas Jokowi sedang melambung tinggi. Hasil survei menunjukkan angka fantastis, bahkan sampai 80 persen!
“Kita sudah terkurung dengan hasil kerja lembaga survei. Lembaga survei itu bilang sudah 80 persen, jadi waktu itu sampai orang bilang Jokowi berpasangan dengan sandal saja dia bisa menang,” ungkap Beathor.
Ternyata, keputusan Megawati kala itu sangat didasarkan pada hasil survei yang menunjukkan betapa populernya Jokowi. Beathor menyebut, “Ibu Mega selalu berstandar kepada hasil survei, hasil survei itu menyebabkan Ibu Mega terjebak, ternyata populer tapi enggak punya ijazah.”
Lebih mengejutkan lagi, Beathor mengungkapkan bahwa mendiang suami Megawati, Taufiq Kiemas, sudah merasakan ada “sesuatu yang enggak beres” pada Jokowi, termasuk dugaan “rakus kekuasaan.” Namun, pada akhirnya Taufiq tetap mengalah dan mengikuti keinginan Megawati sebagai Ketua Umum PDIP yang terpukau dengan hasil survei.
“Tapi kan dia ngikut istri, Ibu Mega ketua umum kan, ketua umum melihat dari survei. Survei ini yang menyesatkan,” ujar Beathor.
Ia bahkan menuding bahwa survei-survei tersebut hanya mengambil sampel kecil dan “menjebak” responden dengan pertanyaan yang mengarahkan pada popularitas Jokowi.
Jadi, intinya, menurut Beathor, PDIP ‘terjebak’ popularitas semu berdasarkan survei yang menyesatkan. Bagaimana menurutmu, apakah ini alasan yang masuk akal? Yuk, sampaikan pendapatmu di kolom komentar! (*/bbs)















