Tangerang Selatan, HALOBANTEN.COM — Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memperkuat pencegahan dan pengendalian penyakit menular melalui kolaborasi lintas sektor.
Upaya tersebut berlangsung dalam kegiatan Penguatan Lintas Program dan Lintas Sektor (LP/LS). Kegiatan berlangsung pada 4–6 Agustus 2026 di Hotel Grand Zuri BSD City, Serpong.
Kegiatan itu bertujuan memperkuat sinergi layanan kesehatan primer dan komunitas. Selain itu, agenda tersebut mendukung Transformasi Sistem Kesehatan, khususnya pilar Transformasi Layanan Primer.
Dinkes Tangsel mengundang Kementerian Kesehatan RI dan BPJS Kesehatan Cabang Tangerang. Rumah sakit, puskesmas, serta klinik juga ikut dalam kegiatan tersebut.
Pada hari pertama, peserta membahas pencegahan dan pengendalian penyakit menular. Materi juga mencakup Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta kesiapsiagaan KLB.
Selain itu, peserta membahas penanggulangan Tuberkulosis (TBC) dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Pembahasan tersebut menyesuaikan tantangan kesehatan masyarakat di tingkat wilayah.
ISPA dan DBD Tetap Perlu Diwaspadai
Kepala Dinkes Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar menyebut ISPA berpotensi meningkat selama musim kemarau. Udara kering dan debu dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan.
“Yang pertama pasti terkait infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA,” ujar Allin, Rabu (5/8/2026).
Menurut Allin, masyarakat juga perlu menjaga kewaspadaan terhadap demam berdarah dengue (DBD). Musim kemarau tidak otomatis menghilangkan risiko penularan penyakit tersebut.
Warga sering menyimpan cadangan air saat pasokan air terbatas. Karena itu, tempat penampungan air tetap perlu mendapat perhatian.
Tempat air yang jarang dibersihkan dapat menjadi lokasi berkembangnya jentik Aedes aegypti. Oleh sebab itu, warga perlu rutin menguras dan membersihkan tempat penampungan air.
“DBD juga harus tetap diwaspadai,” kata Allin.
Selain itu, keterbatasan air bersih dapat meningkatkan risiko penyakit saluran pencernaan. Kondisi tersebut dapat terjadi pada wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan air.
Allin mengingatkan warga agar tetap menjaga kebersihan tangan, makanan, dan lingkungan. Kebiasaan tersebut penting untuk menekan risiko diare dan tifus.
“Jangan sampai karena air kurang, kebersihan jadi kurang terjaga,” ujarnya.
Dinkes Tangsel juga mengingatkan masyarakat terhadap risiko zoonosis. Penyakit tersebut dapat menular dari hewan kepada manusia.
Karena itu, kebersihan lingkungan perlu mendapat perhatian bersama. Warga juga perlu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Langkah tersebut mencakup mencuci tangan dengan sabun dan menjaga kebersihan makanan. Warga juga perlu membersihkan tempat penampungan air secara rutin.
Tangsel Perkuat Penanganan TBC Berbasis Wilayah
TBC juga masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Tangerang Selatan. Penyakit tersebut menular melalui udara dan dapat menyerang berbagai kelompok masyarakat.
Namun, deteksi dini dan pengobatan sampai tuntas dapat membantu mencegah penularan. Dukungan keluarga dan lingkungan juga berperan dalam proses pengobatan pasien.
Pemkot Tangerang Selatan melalui Dinkes terus memperkuat percepatan eliminasi TBC. Salah satu langkahnya melalui program RW Bebas TBC.
Program tersebut melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan warga. Kolaborasi tersebut bertujuan memperkuat pencegahan serta penanganan TBC di tingkat lingkungan.
Masyarakat juga mendapat dorongan untuk mengenali gejala TBC sejak awal. Warga dengan batuk berkepanjangan perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Selain itu, keluarga dan lingkungan perlu mendukung pasien menjalani pengobatan sampai tuntas. Pendekatan tersebut juga bertujuan mengurangi stigma terhadap pasien TBC.
Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, eliminasi TBC tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan.
“Melalui program RW Bebas TBC, kami ingin membangun kepedulian masyarakat,” kata Benyamin.
Pemkot Tangsel juga memperkuat edukasi dan pelacakan kontak erat. Pemerintah turut meningkatkan kapasitas kader serta sinergi hingga tingkat RT dan RW.
Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif. Dengan begitu, masyarakat dapat mengenali risiko serta gejala TBC lebih cepat.
Benyamin juga mengajak masyarakat menghapus stigma terhadap TBC. Ia menegaskan pasien dapat sembuh melalui pengobatan disiplin sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Dengan kolaborasi lintas sektor, Tangsel menargetkan layanan kesehatan yang semakin terintegrasi. Upaya tersebut sekaligus mendukung pencegahan penyakit dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
(*)






















